Sejarah Kesultanan Palembang

SEKAPUR SIRIH

Bismillahirrahmanirrahim

Palembang sebagai kota metropolis, sangat kaya akan sumber daya alam dan hasil buminya. Kota yang melaju sebagai kota industri, dewasa ini telah membuktikan eksistensi dirinya ditengah kancah persaingan global dunia Internasional. Palembang yang juga menyandang sebagai kota dagang, kota perniagaan atau bisnis, banyak menghasilkan minyak, batu bara, semen, timah dan bahan-bahan energi lainnya. Maka tidaklah berlebihan kiranya Palembang dikatakan sebagai barometer dan pintu gerbang Andalas Selatan yang penuh potensi dan kemampuan menopang pembangunan bangsa Indonesia. Palembang adalah salah satu kota tertua diantara kota-kota lainnya di Indonesia, memiliki sejarah yang gemilang pada masanya dengan adat istiadat dan sosial budaya yang luhur sebagai warisan sejarah masa lampau. Di sini pernah berdiri Kerajaan Pedatuan Sriwijaya, Melayu dan Kesultanan Palembang Darussalam yang kebudayaan serta keharuman namanya sudah cukup dikenal di Nusantara maupun Manca Negara. Namun sayangnya apa yang terjadi dimasa lalu tersebut sampai kini masih belum terekam dan terkuakan betul, sehingga memerlukan penelitian ilmiah lebih lanjut.

Risalah ini secara khusus menceritakan tentang Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam. Buku-buku tentang Kesultanan Palembang selama ini dirasakan masih kurang dan langka, sehingga kehadiran risalah ini dapat mengisi kelangkaan khasanah pustaka tentang Kesultanan Palembang tersebut agar dapat diketahui oleh generasi penerus kita.

Mudah-mudahan dengan terbitnya risalah ini dapat dipergunakan sebagai bahan pendidikan di sekolah dan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat, baik pada masa sekarang maupun untuk masa-masa mendatang.

Akhirnya tak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada semua pihak yang telah mendukung disusunnya risalah ini. Kami menyadari tentunya tak ada gading yang tak retak, demikian pula risalah ini mungkin masih banyak kekurangannya, untuk itu keritik dan saran sangat kami nantikan. Semoga risalah sederhana ini mendapat sambutan yang memuaskan dari pembaca yang ingin mengetahui sejarah Kesultanan Palembang Darussalam serta bermanfaat bagi generasi muda kita.

          Palembang, 12 Juni 2020

          Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin             Sultan palembang Darussalam

BAB I

MUQADDIMAH

Kalau kita membuka lembaran-lembaran buku sejarah Tanah Air, kita akan membaca suatu kerajaan yang terbesar di Indonesia pada abad ke-VI/VII. Sebuah kerajaan berbasiskan Budha yang mencapai puncak kecemerlangannya. Wilayahnya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu (Malaysia), beserta pulau-pulau di sebelah Timur Sumatera, bahkan di Asia. Kerajaan tersebut adalah SRIWIJAYA namanya (683-1377), menurut naskah-naskah kuno serta tutur orang-orang tua/sesepuh terletak di Bukit Siguntang. Oleh karena Sriwijaya terletak di tepian sungai besar, maka di situlah tempat pusat kebudayaan, perdagangan dan pusat i1mu pengetahuan.

Pada waktu dan gilirannya, penyebaran dakwah Agama Islam di beberapa wilayah dunia, termasuk di Indonesia, tidaklah menggunakan jalan kekerasan, peperangan, atau dengan pedang seperti yang kerap kali didengungkan oleh para orientalis. Islam disebarkan sebagai suatu agama yang mengajarkan para pengikutnya untuk berfikir dan berbuat secara rasional. Di Bumi Sriwijaya, Islam juga masuk dengan jalan damai langsung dari Arab melalui hubungan perniagaan dan hubungan perkawinan antara para pedagang asing dengan penduduk setempat, sehingga terjadi akulturasi dan transformasi budaya yang cukup signifikan antara Islam dan budaya setempat (lokal) seperti tradisi, adat istiadat, perilaku, sikap, dan pola hubungan masyarakat.

Berdasarkan kesimpulan Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan”29 Nopember 1984, Islam masuk ke Sumatera Selatan, terutama Palembang, terjadi sekitar abad pertama hijriyah atau abad ke-8 Masehi dengan jalan damai melalui pelayaran dan perdagangan. (Gadjahnata 1986).

RM. Akib (1929: 4-5), sebelumnya telah mempertegas masuknya Islam ke Palembang:

“Dalam tahun 622 (zaman Rasulullah masih hidup), adalah Abdul Wahab diutus baginda Rasulullah pergi ke Tiongkok, akan mengembangkan agama Islam di sana. Ia berlayar melalui Selat Malaka dan Singapura singgah di Sumatera Utara. Dalam tahun 628, sewaktu Nabi Muhammad saw. masih hayat, beliau sudah mengutus Wahab Abi Kasbah buat mengunjungi kaisar Tiongkok dengan tanda bersahabat dan merencanakan Islam serta dimintanya kaisar ini memeluk agama Islam dan mengizinkan menyiarkan Islam di antara penduduk Tiongkok. Perjalanan dan pelayaran utusan ini melalui Sumatera, Selat Malaka dan terus ke Tiongkok. Kemudian berturut-turut saudagar-saudagar Arab datang ke Indonesia, lebih-lebih setelah Rasulullah wafat

Dalam pertengahan abad VII itu ditaklukannya tanah Persi, lalu berdiamlah mereka di Baghdad dan Kuffah. Dari sana menjalar ke India, lalu ke Aceh dan Palembang. Pada tahun 674 sudah ada seorang kepala dagang Arab di Pantai Sumatera Barat, sedang di Palembang agaknya lebih dahulu didatangi oleh orang serupa itu, sebab kebanyakan saudagar-saudagar Arab, Cina dan Hindu dalam abad VII itu melayari selat Malaka dan Laut Cina Selatan terus ke Laut Jawa dan terus ke Maluku.”

BAB II

KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM

A. Asal-Usul

Menurut catatan sejarah, cerita tentang Kesultanan Palembang muncul melalui proses yang panjang dan berkaitan erat pula dengan kerajaan-kerajaan besar lain, terutama di Pulau Jawa, seperti Kerajaan Majapahit, Demak, pajang dan Mataram.

Raja Majapahit, Prabu Brawijaya yang terakhir memiliki putera bernama Aria Damar atau setelah memeluk Islam disebut Aria Dilah dikirim kembali ke Palembang untuk menjadi penguasa. Di sini ia menikah dengan saudara Demang Lebar Daun yang bernama Puteri Sandang Biduk, dan diangkat menjadi raja (1445-1486). Pada saat Aria Dilah memerintah Palembang, ia mendapat kiriman seorang puteri Cina yang sedang hamil, yakni isteri ayahnya yang diamanatkan kepadanya untuk mengasuh dan merawatnya. Sang puteri ini melahirkan seorang putera di Pulau Seribu, yang diberi nama Raden Fatah atau bergelar Panembahan Palembang, yang kemudian menjadi raja pertama di Demak dan menjadi menantu Sunan Ampel.

Pada saat Raden Fatah menjadi raja Demak I (1478-1518), ia berhasil memperbesar kekuasaannya dan menjadikan Demak kerajaan Islam pertama di Jawa. Akan tetapi, kerajaan Demak tidak dapat bertahan lama karena terjadinya kemelut perang saudara dimana setelah Pangeran Trenggono Sultan Demak III anak Raden Fatah wafat, terjadilah kekacauan dan perebutan kekuasaan antara saudaranya dan anaknya. Saudaranya, mengakibatkan sejumlah bangsawan Demak melarikan diri kembali ke Palembang.

Rombongan dari Demak yang berjumlah 80 Kepala Keluarga ini diketuai oleh Pangeran Sedo Ing Lautan (1547-1552) menetap di Palembang Lama (1 ilir) yang saat itu Palembang dibawah pimpinan Dipati Karang Widara, keturunan Demang Lebar Daun. Mereka mendirikan Kerajaan Palembang yang bercorak Islam serta mendirikan Istana Kuto Gawang dan Masjid di Candi Laras (PUSRI sekarang). Pengganti Pangeran Sedo Ing Lautan sebagai Raja adalah anaknya, Ki Gede Ing Sura Tuo selama 22 tahun (1552-1573). Oleh karena beliau tidak berputera, maka ia mengangkat keponakannya menjadi penggantinya dengan bergelar pula Ki. Gede Ing Suro Mudo (1573-1590). Setelah wafatnya ia di ganti oleh Kemas Adipati selama 12 tahun. Kemudian digantikan oleh anaknya Den Arya lamanya 1 tahun. Selanjutnya ia diganti oleh Pangeran Ratu Madi Ing Angsoko Jamaluddin Mangkurat I (1596-1629) yang wafat teraniaya di bawah pohon Angsoka. Pengganti selanjutnya ialah adiknya Pangeran Madi Alit Jamaluddin Mangkurat II (1629-1630). Setelah wafat diteruskan pula oleh adiknya yang bernama Pangeran Sedo Ing Puro Jamaluddin Mangkurat III (1630-1639), wafat di Indra laya. Lalu digantikan oleh kemenakannya yang bernama Pangeran Sedo Ing Kenayan Jamaluddin Mangkurat IV (1639-1650) bersama dengan isterinya Ratu Senuhun. Ratu Senuhun inilah yang menyusun “Undang-undang Simbur Cahaya” yang mengatur adat pergaulan bujang gadis, ad at perkawinan, piagam dan lain sebagainya.

Sebagai ganti Pangeran Sido Ing Kenayan ialah Pangeran Sedo Ing Pesarean Jamaluddin Mangkurat V (1651-1652) bin Tumenggung Manca Negara. Tongkat estafet selanjutnya dipegang oleh puteranya yang bernama pangeran Sedo Ing Rejek Jamaluddin Mangkurat VI (1652-1659) sebagai raja Palembang. Beliau raja yang alim dan wara’. Pada masanya ini terjadilah pertempuran pertama dengan Belanda pada tahun 1659 yang mengakibatkan Keraton Kuto Gawang hangus terbakar. Pangeran Sido Ing Rejek menyerahkan kepemimpinannya kepada adiknya, Pangeran Kesumo Abdurrohim Kemas Hindi. Sedangkan ia mengungsi ke Saka Tiga sampai akhir hayatnya dan di sana pula jasadnya dikebumikan.

B. Latar Belakang Terbentuknya Kesultanan Palembang Darussalam

Perang yang Pertama Antara Kerajaan Palembang dan Belanda

KERATON KUTO GAWANG (1659)  

 

Pada tahun 1658 datang diperairan sungai musidi pelimbang kapal-kapal kompeni Belanda dari Batavia (jakarta sekarang) yang dipimpin oleh Cornelisz Oc-kerse. Diantara kapal-kapal itu terdapat dua kapal besar bernama ’Jakarta’ dan ’de Wachter’

         Kedatangan Cornelisz Oc-kerse ke Pelimbang itu adalah dalam rangka memenuhi pelaksanaan kontrak dagang antara kompeni belanda dan kerajaan pelimbang, diantaranya adalah timah putih dan rempah- rempah seperti lada putih dan lada hitam.

         Kito atau keraton pelimbang pada abad ke 16 dan awal abad ke 17 terletak di seberang ilir atau sebelah kiri dari sungai musi dan bernama waktu itu KUTO GAWANG (Pusri Sekarang). Yang kemudian setelah Kuto tersebut berpindah lagi ke tempat yang baru, bernama Kuto Cerancangan pada akhir abad ke 18, maka Kuto Gawang diberi nama PELIMBANG LAMA.

         Keraton Kuto Gawang ini terletak diantara dua sungai yaitu bernama Sungai Buah dan Sungai Linta dan ditengah-tengah kuto tersebut terdapat sungai Rengas.

         Kuto  atau Keraton Kerajaan Pelimbang tersebut panjang dan lebarnya sama yaitu 700 Depa atau k.l. 1100 m lebar, dan dikelilingi oleh tembok atau benteng terbikin dari kayu setinggi 7,25 m, dan terdiri atas balok-balok dari kayu besi atau kayu unglen  (kayu tulen) berukuran 30×30 cm.

Dibelakang benteng kayu ini yang disusun secara rapih sekali dan teratur, terdapat pula tembok dari tanah dimana tersusun meriam-meriam pertahanannya. Dibagian pinggir sungai musi terdapat pula tiga  (BULUARTI) atau anjungan (bastion). Satu diantaranya yang terletak dibagian tengah adalah dibikin dari batu. Ketiga buluarti ini dilengkapi pula dem\ngan alat-alat persenjataannya seperti meriam, lelo, dan lain sebagainya.

         Pintu utama masuk ke dalam kuto ini adalah dari sungai rengas, dan begitulah terdapat pula pintu-pintu lainnya dari samping kiri kanan dan belakang.

         Disebelah timur dari kuto ini terdapat pula kembara yang pada masa jauh sebelum kedatangan belanda ini telah dibangun kubu-kubu pertahanan yang dilengkapi dengan lapisan-lapisan cerucug dari kayu unglen terbentang dari pantai sebelah hilir sungai musi sampai kepantai seberang hulu sungai musi berikut rantainya. Ketiga kubu pertahanan atau istilah sekarang benteng yang terletak di pulau kembara, bernama benteng ”manguntama” yang kedua terletak disebelah hilir bagus kuning yaitu bernama benteng pertahanan ”Martapura” dan yang terletak di muara pelaju adalah benteng pertahanan yang terbesar bernama ”Tambakbaja”.

         Seperti kita ketahui bukan saja di pelimbang. Kompeni belanda dalam melakukan kontraknya selalu berbuat curang dan melakukan penyelundupan-penyelundupan, baik oleh pihak kompeninya sendiri. Maupun pribadi orangnya sendiri, tetapi rata-rata diseluruh wilayah nusantara kita ini. Maka atas penipuan-penipuan tersebut timbulah amarah rakyat pelimbang terhadap kompeni belanda. Pada bulan desember 1658 kapl-kapal belanda  diserbu secara serentak oleh kerajaan pelimbang bersama-sama rakyat dibawah pimpinan Pangeran Ario Kusuma Abdulrochim Kiayi Mas Endi dengan dibantu oleh :

  1. Adiknya Putri Ratu Emas Temenggung Bagus Kuning Pangluku
  2. Pangeran Mangku Bumi Nembing Kapal.
  3. Kiyai Demang Kecek.

Didalam pertempuran tersebut maka sebahagian dari anak kapal Cornelisz Oc-kerse dapat ditewaskan, sebagian ditawan sebagian lagi  dapat lolos melalui Jambi kemarkasnya di Betawi. Dua kapal besar belanda dari angkatan lautnya yaitu, ’JAKARTA’ dan ’ de WACHTER’ dapat dikuasai dan dimenangkan oleh pelimbang dalam peperangan tersebut. Kemudian kedua kapal tersebut disimpan di pulau kembara. Kesemuanya ini adalah akibat kecurangan dari pihak kompeni belanda yang dalam pelaksanaan kontrak dagangnya dengan kerajaan pelimbang tidak mematuhi peraturan kontraknya sendiri.

         Rupanya kompeni tidak melupakan kejadian tersebut begitu saja, satu tahun kemudian pada tanggal 10 november 1659 menyusul satu armada kapal perang dibawah pimpinan commandeur JOHAN vender LAAN dimuka kubu pertahanan (benteng) Manguntama, dan benteng tambak jaya yang terletak di pulau kembara dan muara sungai komering, menggempur benteng pertahanan pelimbang tersebut. Pada hari permulaan Belanda keisian dan dipukul mundur sampai posisi pulau salah nama sebab kapal-kapal perang mereka banyak yang rusak tenggelam, orang-orangnya banyak yang cidera karena tembakan oleh meriam Sri Pelimbang yang sangat dibanggakan oleh rakyat pelimbang dan diakui oleh musuh kehebatannya itu, baik dari segi kaliber kekuatan maupun keampuhannya sehingga pada jaman itu meriam musuh yang dapat menandinginya.

         Dalam keadaan posisi yang parah itu maka pihak pihak musuh mencari siasat dan jalan keluar berupa mengincar letak pusat penyimpanan obat mesiu pelimbang. Walaupun bagaimana sulitnya untuk mendapatkan rahasia penyimpanan tersebut, akhirnya letak dari gudang-gudang obat mesiu itu dapat juga diketahui oleh mereka, diledakkan oleh musuh pusat pennyimpanan mesiu di benteng tambak baya di muara pelaju itu.

Oleh karena itu maka posisi pertempuran beberapa kali berubah –ubah dan akhirnya dikarenakan gudang-gudang mesiu pelimbang terbakar, maka palembang harus bertempur dengn senjata tajam, seperti keris, pedang, panah, tombak nibung, yaitu semacam tombak bambu runcing yang berbisa sekali. Dikarenakan kuto gawang hampir habis terbakar itu maka pasukan dan rakyat palemban berangsur mengundurkan diri kepedalaman. Raja pelimbang, sido ing rejek berikut rakyatnya kemudian mendirikan kuto baru di pedalaman yang diberi nama indralaya yang dijadikan tempat kedudukan raja pelimbang. Sebagian besar rakyat pelimbang dibawa oleh raja mengungsi ke saka tiga, pedamaran, tanjung batu dan pondok, tetapi kemudian sebagian besar dari mereka tinggal menetap ditempat-tempat tersebut hingga sekarang telah berkeluarga, turun temurun menjadi penduduk ditempat-tempat tersebut. Setelah pelimbang dan kuto gawang hampir dikosongkan dengan mengungsinya sebagian besar penduduknya ke pedalaman, maka dalam pada itu raja mengambil siasat melakukan sistem peperangan secara pengepungan (blokade) dan gerilya terhadap kompeni belanda dan raja sendiri pindah ke saka tiga. Ternyata masih banyak peniggalannya di tempat tersebut yaitu. Makam perkuburannya sendiri, masjid, balainya dan lain-lain. Pada siang harinya rakyat dan tentara pelimbang menghilang tidak menampakkan diri di kuto yang sebagian telah dibakar dan dibumi hanguskan itu, dan baru pada malam harinya diadakan kesibukan-kesibukan. Sandang dan pangan tidak di jual belikan kepada kompeni belanda, sehingga mereka lama kelamaan menderita kekurangan persediaan.

Di indralaya, saka tiga, pedamaran, pondok, tanjung batu, dan daerah sekitarnya rakyat sibuk membuat alat-alat persenjataan untuk perang dan pembangunan. Di pondok khususnya untuk pertemuan, oleh raja sendiri diadakan dan dipimpin musyawarah besar bersama dengan alim ulama, hulubalang, pemimpin pasukan, pemuka rakyat perihal bagaimana cara melakukan siasat peperangan melawan musuh. Jikalau tadinya hanya kaum pria saja yang berperang, maka didalam musyawarah di pondok tersebut diambil keputusan antara lain, bahwa didalam peperangan yang akan diadakan nanti kaum wanita juga akan ikut serta yang pimpinananya akan ditunjuk adalah adik dari kyai kemas endi pangeran ario kusumo abdul rochim, ratu bagus kuning dengan gelar Tumenggung Bagus Pangluklu, yaitu adik dari Pangeran Sido Ing Rejek.

Maka didalam menghadapi peperangan yang akan dilakuakan pada hari-hari mendatang melawan belanda itu setelah diadakan persiapan-persiapan itu dalam waktu yang cukuo lama dan matang dengan cara kerja sama dan persaudaraan yang baik itu, maka di aturlah pimpinan oleh empat orang yaitu :

  1. Pangeran Ario Kesumo Abdul Rochim adik raja sendiri, selaku pimpinan umum
  2. Pangeran Mangku Bumi Nembing Kapal dengan alim ulama, hulubalang dan pasukan sabililahnya
  3. Ki Demang Kecek dengan pasukan dan rakyatnya sebagian dari jambi dan sekutu-sekutunya.
  4. Ratu Tumenggung Bagus Kuning Pangluku, dengan srikandi-srikandi pimpinan serta pasukan-pasukannya.

Maka didalam peperangan berlangsung begitu dahsyat dan agak lama banyak jatu korban dikedua belah pihak. Lama kelamaan dipihak belanda tidak bertahan dengan serangan dari rakyat pelimbang secara gerilya maupun secara langsung terus menerus dari pedalaman dan segala penjuru. Disamping itu menilik pula bahwa posisi belanda selama di blokade itu banyak diantara mereka yang sakit akibat kekurangan obat dan pangan dan selama itu tidak dapat turun ke daratan dan kekurangan perlengkapan. Melihat hal demikian serangan dari pihak palembang berjalan terus , maka armada belanda kemudian tidak dapat bertahan lebih lama lagi dengan banyak korban Comandeur JOHAN vander LAAN

Menundurkan diri ke perairan yang aman di luar jarak tembakan meriam dari ketiga benteng pertahanan pelimbang yaitu : Tambak baya, pulau kembara laut dan kembara darat dan mangun tama. Dua hari kemudian armada angkatan perang belanda dipimpin oleh Comandeur JOHAN vander LAAN dan wakil komandeurnya JOHAN TEREUYTMAN meninggalkan perairan musi  dan mengundurkan diri ke Batavia (Betawi).

Sejak terbakar habisnya keraton Kuto Gawang, Palembang telah rata dengan tanah. Akan tetapi Palembang harus bangkit dan perlu kepemimpinan. Kemas Hindi dengan upaya dan kharismanya yang tinggi, menegakkan kembali harkat dan martabat Palembang. Ia berhasil memimpin, membentuk serta membangun kembali peradaban Palembang pasca perang 1659, dan memutuskan keterikatan dengan Jawa terutama Mataram. Kemudian pada tahun 1666, Pangeran Ario Kusumo Kemas Hindi memproklamirkan Palembang menjadi Kesultanan Palembang Darussalam dan beliau dilantik sebagai sultan oleh Badan Musyawarah Kepala-kepala Negeri Palembang dengan gelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam serta mendapat legalitas pula dari Kerajaan Istambul (Turki Usmani). Sebuah keraton baru Kuto Cerancangan di Beringin Janggut dibangunnya dalam tahun 1660, dan sebuah masjid negara (1663). Masjid ini kemudian dikenal dengan Masjid Lama (17 ilir sekarang) dan kini hanya tinggal namanya saja.

Bapak pembangunan Kesultanan Palembang Darussalam ini setelah wafatnya disebut dengan Sunan Candi Walang, makamnya terdapat di Gubah Candi Walang 24 ilir Palembang, pemerintahannya selama 45 tahun. Dibawah kepemimpinan beliaulah Islam telah menjadi agama Kesultanan Palembang Darussalam (Darussalam = negeri yang aman, damai dan sejahtera) dan pelaksanaan hukum syareat Islam berdasarkan ketentuan resmi. Beliaulah yang memantapkan menyusun, mengatur serta mengorganisir struktur pemerintahan modern secara luas dan menyeluruh, hukum dan pengadilan ditegakkan, pertahanan, pertanian, perhutanan dan hasil bumi lainnya ditata dengan serius. Struktur pemerintahan di tata sesuai menurut adat istiadat negeri yang lazim diatur leluhur kita di Palembang ini. Sultan mempunyai seorang penasehat Agama dan seorang sekretaris. Juga didampingi pelaksana pemerintahan sehari-hari sebagai pelaksana harian dan didampingi oleh Kepala Pemerintahan setempat sebagai Kepala Daerah. Tiga orang sebagai anggota Dewan Menteri terdiri dari pangeran Natadiraja, pangeran Wiradinata dan pangeran Penghulu Nata Agama yang mengatur tentang seluruh permasalahan Agama Islam.

PERANG PALEMBANG PERTAMA – VOC KERATON KUTO GAWANG (1659),LOKASI PABRIK PUSRI SEKARANG  

 

BAB III

SULTAN-SULTAN PALEMBANG

SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM KE-I (PERTAMA)

Sultan Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam Bin Pangeran Sido Ing Pesarean

PENDIRI KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM

Beliau adalah bapak pendiri Kesultanan Palembang Darussalam, Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam, ulama dan Sultan yang shaleh. Nama lengkapnya ialah Pangeran Ario Kusumo Abdurrahim (Kyai Mas Hindi) bin Pangeran Sido Ing Pesarian bin Pangeran Manca Negara Cirebon bin Pangeran Adipati Sumedang bin Sunan Giri.

         Ibunya bernama Masayu Adi Wijaya Ratu Mas Mangkurat binti Kemas Panji Wira Singa bin Ki.Tumenggung Banyu bin Ki.Gede Ing Mempelam bin Ki.Gede Ing Sungi Surabaya. Ia dilahirkan sekitar tahun 1630 di lingkungan Keraton Kuto Gawang Palembang Lamo (1 ilir). Putera ke 4 dari 13 bersaudara. Saudaranya yang tertua ialah Pangeran Ratu Sido Ing Rajek yang menjadi raja menggantikan ayahnya dan wafat di Indra Laya.

         Pendidikan awalnya didapat dari ayahnya sendiri, dan berguru kepada ulama-ulama besar pada waktu itu di antaranya: Sayid Mustofa Assegaf bin Sayid Ahmad Kiayi Pati, Kms.M.Asyik bin  Kms.Ahmad, Sayid Syarif Ismail Jamalullail dan lain-lain.

         Pada tahun 1659, ia menggantikan kakaknya menjadi raja. Kemudian pada tahun 1666, ia memproklamirkan kerajaan Palembang menjadi Kesultanan Palembang Darussalam setelah mendapat legalitas dari Kesultanan Turki Usmani, dan ia sendiri diangkat menjadi Sultan Abdurrahman yang pemerintahannya berdasarkan Islam, berpedoman kepada al-Qur’an dan Hadits.

         Karena Keraton Kuto Gawang musnah terbakar akibat perang melawan Belanda pada tahun 1659, kemudian ia mendirikan keraton baru dan masjid di Beringin Janggut (antara 17 ilir dan 20 ilir), sekarang terkenal dengan kawasan Masjid Lama.

         Sunan Abdurrahman dalam pemerintahannya dikenal arif dan bijaksana sehingga kesultanan menjadi makmur, aman dan sejahtera. Ia memerintah selama 45 tahun.

         Pada suatu ketika, ia didatangi oleh Nabi Khidir as. yang menyamar sebagai seorang faqir miskin. Beliau diterima dengan senang hati dan ditanya apa maksud tujuannya. Dijawabnya: “Aku mau qodo hajat di tempat tidur tuan.” Maka kata Sultan: “Baiklah pergilah ke dalam.” Lalu di labuhkanlah tirai tujuh lapis. Sejurus kemudian, keluarlah si faqir sambil memberi salam, dan turun lalu berjalan. Oleh Sultan Abdurrahman dilihatnya bukanlah kotoran yang didapat, melainkan tujuh bunga perunggu masing-masing sebesar telur ayam. Maka sabda Sultan: “Ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa Kerajaan Palembang ini akan jatuh setelah tujuh gilir dari padaku.”

Putra-Putri (zuriat) Sunan Abdurrahman 

Sunan Abdurrahman mempunyai beberapa orang isteri, di antara permaisurinya yang tertua ialah Ratu Agung binti Kms. Martayuda. Dari pernikahannya ini, ia memperoleh 8 purta-putri, mereka adalah:

  1. Pangeran Adipati,
  2. Sultan Muhammad Mansur,
  3. Raden Ayu Dipa Kusuma,
  4. Pangeran Tumenggung,
  5. Raden Ayu  Adi Ningrat,
  6. Raden Ayu Dita Kusuma,
  7. Raden Kusuma Barata 
  8. Sultan Agung Komaruddin Sri Truno.

– Dari isterinya yang lain memperoleh 25 orang anak lagi, masing-masing mereka ialah:

  1. Panembahan Surya Dilaga
  2. Pangeran Surya Wikrama Subakti
  3. Pangeran Cakra Kesuma Raden Nusantara
  4. Raden Wira Natara
  5. Raden Suwila
  6. Raden Kapiten
  7. Raden Kuripan
  8. Pangeran Sukarta
  9. Masayu Astra Wijaya
  10. Masayu Suro Wijaya
  11. Masayu Suta Kesuma
  12. Masayu Wayati
  13. Masayu Irawati
  14. Masayu Janaka
  15. Masayu Ubat
  16. Pangeran Adi Kesuma
  17. Pangeran Adi Wijaya
  18. Raden Ayu Purba Negara
  19. Pangeran Cakra Wijaya
  20.  Pangeran Dita Kesuma Raden Kumbang
  21. Pangeran Dipa
  22. Pangeran Suta Kesuma
  23. Pangeran Mentaram
  24. Raden Ayu Adi Kesuma
  25. Raden Ayu Adi Wijaya

         Suhunan Abdurrahman wafat pada tahun 1706, dan dimakamkan di Candi Walang (24 ilir Palembang). Setelah wafatnya dikenal dengan sebutan Sunan Candi Walang.

1

Makam Sultan Palembang Darussalam ke I (Pertama)

Sultan Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam Bin

Bin Pangeran Sido Ing Pesarean

(1659 – 1706 )

SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM KE-II (KEDUA)

Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago Bin Sultan Susuhunan Abdurrohman Khalifatul Mukminin Sayidul

         Beliau juga salahsatu Sultan Palembang yang alim, adil dan bijaksana. Nama lengkapnya ialah Sultan Muhammad Mansur Jaya Ing Laga anak Sunan Abdurrahman Candi Walang. Ibunya bernama Ratu Agung binti Kemas Martayuda Mudo bin Kms.Martayuda Tuo bin Ki.Panca Tanda bin Ki.Gede Ing Karang Panjang. Ia dilahirkan sekitar tahun 1660 di lingkungan Keraton Palembang. Putera ke 2 dari 8 bersaudara yang terkenal dari satu ibu. Sedangkan saudara-saudara yang lainnya ada berjumlah 25 orang lagi.

         Pendidikan awalnya didapat dari ayahnya sendiri, Sunan Candi Walang, kemudian ia menuntut ilmu agama pula kepada ulama-ulama besar Palembang waktu itu seperti: Sayid Mustofa Assegaf bin Sayid Ahmad Kiayi Pati, Faqih Jalaluddin, Sayid Syarif Ismail Jamalullail, Khatib Amir Thayib, dll.

         Ia juga mendapat julukan Pangeran Jaya Ing Laga, karena dalam usia relatif muda, ia telah mampu memenangkan duel di daerah Jambi atas perintah ayahnya, oleh sebab itu ia jaya dalam berlaga. Dikisahkan bahwa telah terjadi peperangan antara Raja Batu dengan Sultan Gede di Jambi. Sultan Gede terdesak dan minta bantuan kepada Sultan Palembang. Maka Sultan Abdurrahman menanyai putera-puteranya, titahnya: “Siapakah diantara kamu sekalian yang boleh pergi ke Jambi membantu Sultan Gede?” Tetapi tak seorangpun yang menyahut, hingga sampai tiga kali beliau bertanya masih tidak ada yang sanggup. Dengan marah dan kesalnya, sultan berkata: “Jikalau tidak karena rambutku sudah putih dan muda tentulah aku yang pergi, tak akan Palembang menanggung malu!”

         Kemudian Muhammad Mansur berani menawarkan diri, katanya: “Daulat tuanku, anakda tiadalah berkata sanggup, sebab masih ada yang lebih tua dari anankda, tetapi apabila Syah Alam titahkan maulah anakda pergi ke Jambi itu.” Mendengar itu hilanglah murka baginda, lalu bertitah kepadanya: “Baiklah, pergilah engkau hai Mansur! tak peduli engkau masih muda, asal berani, jangankan manusia sedang kucingpun jika berani tentu kutitahkan, supaya kita jangan malu!” Maka diperlengkapilah ia dengan laskar pilihan, lalu berangkatlah ke Jambi.

         Setelah tiba, lalu berperanglah ia dengan Ki.Demang Kecek. Terlalulah hebat perang tersebut hingga Palembang hampir kalah. Kemudian Muhammad Mansur berdiri di atas lampit dengan berpayung ubur-ubur di tangan kirinya dan memegang tombak di tangan kanannya. Dengan takdir Allah, Ki.Demang Kecek melompat hendak menyambar Muhammad Mansur, tiba-tiba tombaknya mengenai ujung ibu jari kaki Ki.Demang Kecek, lalu mati seketika itu juga.

         Sepulangnya dari Jambi, ia dinobatkan menjadi Sultan, memerintah selama 12 tahun. Pada tahun 1714, Sultan Muhammad Mansur wafat dan dikebumikan di Kebon Gede (kel 32 ilir Palembang). Oleh sebab itu ia dikenal dengan sebutan Sunan Kebon Gede.

Putra-Putri (zuriat) Sultan Muhammad Mansur

         Sunan Kebon Gede memiliki beberapa orang isteri diantaranya ialah: Ratu Pamekas bt Raden Arya bin Sido Ing Pesarian, Nys. Sengak Jambi, Ratu Mas Pertiwi, Ratu Mas Dangur Jambi, dan lain-lain. Dari permaisuri dan para isterinya  ini beliau dianugerahi 23 orang putra-putri.

– Dari permaisurinya Ratu Pamekas binti Raden Arya bin Pangeran Sido Ing Pesarean, baginda memperoleh 2 orang anak yaitu:

1. Pangeran Ratu Purbaya Abubakar (w. 1711)

2. Denayu Penangkup

– Dari pernikahan yang kedua dengan Nyimas Sengak binti Dipo Anom Priyayi Jambi (janda beranak satu), beliau memperoleh 5 orang anak, yaitu:

3. Sultan Anom Alimuddin

4. Denayu Kerian

5. Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB I)

6. Pangeran Suta Wijaya Keraton

7. Pangeran Dipa Kusuma Buncit

– Isterinya yang ketiga bernama Ratu Mas Pertiwi, dari pernikahan ini baginda memperoleh seorang putri yaitu:

8. Ratu Mas Kalima

         – Isteri keempat ialah bernama Ratu Mas Dangur (mantan isteri Pangeran Adipati), dari perkawinan ini beliau memperoleh seorang putri, yaitu:

9. Denayu Samadi

         Sedangkan dari isteri-isterinya yang lain, Sultan Muhammad Mansur dianugerahi 14 putra-putri lagi, mereka masing-masing adalah:

10. Denayu Mandaraga

11. Pangeran Cakra Wijaya Badut

12. Denayu Pati Penghulu

13. Pangeran Dipati Bali Gede

14. Pangeran Jaya Krama Bali Kecik

15. Denayu Gede

16. Denayu Kecik

17. Denayu Penengah

18. Masayu Gadah

19. Masayu Tiba

20. Raden Selop

21. Denayu Belanak

22. Denayu Luma

Makam Sultan Palembang Darussalam ke II (DUA)

Makam Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago Bin Sultan Susuhunan Abdurrohman Khalifatul Mukminin Sayidul imam 

( 1706 – 1714 )

        SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM KE-III (TIGA)

Sultan Agung Komaruddin Bin Sultan Susuhunan Abdurrohman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam

 Beliau juga salahsatu Sultan Palembang yang alim, adil dan bijaksana. Nama lengkapnya ialah Sultan Agung Komaruddin Sri Truno bin Sunan Abdurrahman Candi Walang, beliau menjadi Sultan sesuai wasiat dari kakaknya Sultan Muhammad Mansyur Jayo ing lago untuk menggantikan dirinya, dikarenakan Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing lago kecewa dan sedih atas wafatnya Pangeran Ratu Purbayo ayang dizholimi /diracun untuk menggantikan dirinya menjadi Sultan di fajar hari sebelum penobatannya.

         Ibunya bernama Ratu Agung binti Kemas Martayuda Mudo bin Kms.Martayuda Tuo bin Ki.Panca Tanda bin Ki.Gede Ing Karang Panjang. Ia dilahirkan sekitar tahun 1670 di lingkungan Keraton Palembang. Putera ke 8 dari 8 bersaudara yang terkenal dari satu ibu. Sedangkan saudara-saudara yang lainnya ada berjumlah 25 orang lagi.

         Pendidikan awalnya didapat dari ayahnya sendiri, Sunan Candi Walang, kemudian ia menuntut ilmu agama pula kepada ulama-ulama besar Palembang waktu itu seperti: Sayid Mustofa Assegaf bin Sayid Ahmad Kiayi Pati, Faqih Jalaluddin, Sayid Syarif Ismail Jamalullail, Khatib Amir Thayib, dll.

         Ia diangkat menjadi sultan setelah mendapat wasiat dari kakaknya, Sultan Muhammad Mansur Kebon Gede. Diceritakan bahwa setelah Pangeran Ratu Purbaya putra sulung Sunan Kebon Gede tewas dalam insiden yang terjadi dimalam pelantikannya kala itu, selanjutnya Sunan Kebon Gede berwasiat: “Jikalau sampai ajalku, yang kurelakan akan gantiku ialah adindaku Sri Truno!” Maka dua tahun kemudian, wafatlah Sunan Kebon Gede.

         Menurut wasiat beliau, maka Sri Truno pun dinobatkan menggantikan kerajaan kakaknya itu dengan gelar Sultan Agung Komaruddin Sri Truno berkedudukan di istana Kuto Cerancangan Beringin Janggut (berkuasa: 1714-1724).

         Beberapa tahun kemudian, Sultan Komaruddin mengangkat kedua keponakannya yang juga berhak atas kesultanan Palembang, yaitu Pangeran Adipati Mangkubumi Alimuddin dan Pangeran Jayo Wikramo menjadi sultan pula. Maka dilantiklah keduanya.

         Pelantikan tersebut dipimpin oleh Panembahan Surya Dilaga dengan seizin saudaranya Sultan Komaruddin Sri Truno. Dalam pidatonya beliau berkata: “Assalamu’alaikum sidang Majelis! Hamba sebagai wakil Sri Sultan, memberi tahukan kepada khalayak yang terhormat bahwa pada saat ini, mudah-mudahan saat yang diberkati Allah Ta’ala. Telah dilantik Pangeran Adipati Mangkubumi menjadi sultan bergelar Sultan Anom, menguasai atas tanah dari Sungai Rendang ke hilir dan beristana di Kampung Kedipan (13 ilir). Dan Pangeran Jayo Wikramo dilantik jadi Pangeran Ratu dengan beralih nama Sultan Mahmud Badaruddin , berkuasa mulai dari Sungai Tengkuruk ke hulu, beristana di Keraton (Kuto Lamo)!”

         Demikianlah, pada waktu itu di Kesultanan Palembang Darussalam terdapat tiga sultan, dan semuanya bekerja sama, bahu membahu dalam membangun Kesultanan Palembang. Sungguh sangat baik peraturan itu, Sultan Agung (sebagai adviseur) di tengah-tengah. Dan di kiri-kanan Sultan  Mahmud Badaruddin dan Sultan Anom. Bilamana terjadi kekhilafan keduanya dalam hal pemerintahan negeri, Sultan Agunglah yang memberi petuah dan nasehat.

Putra-Putri (zuriat) Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno :

Sultan Agung memiliki beberapa orang isteri, sedang permaisuri yang tertua ialah Raden Ayu Ratu binti Pangeran Mangkubumi Nembing Kapal, dari perkawinan ini ia memperoleh empat orang anak yaitu:

  1. Raden Ayu Kurus,
  2. Raden Ayu Rangda yang menikah dengan Sultan Bahmud Badaruddin,
  3. Denayu Senik 
  4. Raden Mungkas.

Dari isterinya yang lain, Sultan Agung memiliki paling tidak 2 orang anak lagi, yaitu:

  1. Masayu Kirang
  2. Masagus Biri (tidak ada keturunan).

         Sultan Agung wafat pada tahun 1724 dan dimakamkan di 1 Ilir Palembang Lamo

3

Makam Sultan Palembang Darussalam ke III (Tiga) Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno Bin Sultan Susuhunan Abdurrohman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam ( 1714 – 1724)

(Sultan Palembang Darussalam Tidak Memerintah)

Sultan Anom Alimuddin Bin Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago

 Beliau juga sebagai salah satu Sultan Palembang yang sempat berkuasa, namun Tidak Memerintah. Nama lengkapnya ialah Pangeran Adipati Mangkubumi Alimuddin yang bergelar Sultan Anom anak Sultan Muhammad Mansur Jayo Ing lago (Sunan Kebon Gede )

         Ibunya bernama Nyimas Sengak binti Dipo Anom Priayi Jambi. Ia dilahirkan sekitar tahun 1684 di lingkungan Keraton Palembang. Putera pertama  dari 5 bersaudara yang terkenal dari satu ibu. Sedangkan saudara-saudara yang lainnya ada berjumlah 22 orang lagi.

         Sebagaimana biasanya di lingkungan keraton, pendidikan awalnya didapat dari ayahnya sendiri, Sunan Kebon Gede, kemudian ia menuntut ilmu agama pula kepada ulama-ulama besar Palembang waktu itu seperti: Faqih Jalaluddin, Khatib Amir Thayib, Sayid al-Idrus, Syekh Abdurrahman bin Husin al-Idrus, dll.

         Ia diangkat menjadi sultan oleh pamannya, Sultan Agung Komaruddin Sri Truno bersama dengan adik kandungnya yaitu Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo. Prosesi pelantikan beliau berlangsung cukup khidmat dan disambut dengan penuh rasa syukur oleh rakyat negeri Palembang Darussalam dan sekitarnya.

         Pelantikannya dipimpin oleh Panembahan Surya Dilaga dengan seizin saudaranya Sultan Komaruddin Sri Truno. Dalam pidatonya beliau berkata: “Assalamu’alaikum sidang Majelis! Hamba sebagai wakil Sri Sultan, memberi tahukan kepada khalayak yang terhormat bahwa pada saat ini, mudah-mudahan saat yang diberkati Allah Ta’ala. Telah dilantik Pangeran Adipati Mangkubumi menjadi sultan bergelar Sultan Anom, menguasai atas tanah dari Sungai Rendang ke hilir dan beristana di Kampung Kedipan (13 ilir). Dan Pangeran Jayo Wikramo dilantik jadi Pangeran Ratu dengan beralih nama Sultan Mahmud Badaruddin , berkuasa mulai dari Sungai Tengkuruk ke hulu, beristana di Keraton (Kuto Lamo)!”

         Demikianlah, pada waktu itu di Kesultanan Palembang Darussalam terdapat tiga sultan, dan semuanya bekerja sama, bahu membahu dalam membangun Kesultanan Palembang. Sungguh sangat baik peraturan itu, Sultan Agung (sebagai adviseur) di tengah-tengah. Dan di kiri-kanan Sultan Mahmud Badaruddin dan Sultan Anom. Bilamana terjadi kekhilafan keduanya dalam hal pemerintahan negeri, Sultan Agunglah yang memberi petuah dan nasehat.

         Beberapa waktu berselang, Sultan Agung berpesan kepada keduanya: “Barangsiapa diantara kemanakanda Sultan Anom atau Pangeran Ratu yang kawin dengan Ratu Rangda (anak Sultan Agung), dialah yang akan tetap menjadi sultan menggantikanku!”

         Ternyata Pangeran Ratu Mahmud Badaruddinlah yang menikah dengan Ratu Rangda, dan ia ditetapkanlah menjadi Sultan. Sedang Sultan Anom sendiri hijrah ke Jambi bersama keluarganya, dan disana anaknya Raden Ayu Ratu Benderang menikah dengan Sultan Jambi.

Putera-Puteri (zuriat) Sultan Anom Alimuddin

Sultan Anom memiliki beberapa orang isteri, dari perkawinannya tersebut ia memperoleh putra-puteri diantaranya:

  1. Pangeran Adipati Comot,
  2. Raden Kelib,
  3. Raden Ayu Suta,
  4. Raden Ayu Surut,
  5. Raden Ayu Jungut,
  6. Raden Ayu Benderang yang bergelar di Jambi sebagai Ratu Ayu, dll.

Sultan Anom Alimuddin wafat pada tahun 1148H atau 1735M dan dimakamkan di Kebon Gede 32 Ilir Palembang. Makamnya belum ditemukan ditempat tersebut sampai sekarang

SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM KE-IV (EMPAT)

   Sultan Mahmud Badaruddin  Jayo Wikramo Bin            SultanMuhammad mansyur Jayo Ing Lago     

Beliau juga sebagai salah satu Sultan Palembang yang alim, bijaksana, tokoh pembangunan yang modernis, realistis, dan pragmatis.Nama lengkapnya ialah Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo anak Sultan Muhammad Mansur Kebon Gede

         Ibunya bernama Nyimas Sengak binti Dipo Anom Priayi Jambi. Ia dilahirkan sekitar tahun 1103H atau 1690M di lingkungan Keraton Palembang. Putera ke 3  dari 5 bersaudara yang terkenal dari satu ibu. Sedangkan saudara-saudara yang lainnya ada berjumlah 22 orang lagi.

         Sebagaimana biasanya di lingkungan keraton, pendidikan awalnya didapat dari ayahnya sendiri, Sunan Kebon Gede, kemudian ia menuntut ilmu agama pula kepada ulama-ulama besar Palembang waktu itu seperti: Faqih Jalaluddin, Khatib Amir Thayib, Sayid al-Idrus, Syekh Abdurrahman bin Husin al-Idrus, dll. Gurunya yang tersebut terakhir ini seorang habib yang menjabat sebagai qadhi di kesultanan. Kepada beliau ini ia mempelajari ilmu-ilmu hadis seperti Sahih al-Bukhari, dan fiqih bermazhab Imam Syafi’i. Sedang dalam tasawwuf, ia mengamalkan Tarekat Naqsyabandiyah. Ia juga seorang hafiz yang hafal al-Qur’an 30 juz.

         Selain dikenal sebagai ulama dan waliyullah, ia juga sebagai sosok yang gagah berani, tokoh pembangunan dan seorang petualang yang kompromistis. Pengembaraannya sampai ke Makassar, Johor, Kelantan, Kedah, Siam,Timur Tengah, dll. Ia juga menjadi imam, khatib, guru agama dan penulis. Salahsatu nama kitab karangannya adalah “Tahqidul Yakin.”

         Ia diangkat menjadi sultan oleh pamannya, Sultan Agung Komaruddin Sri Truno. Dinobatkan pada hari Kamis tanggal 27 Jumadil Akhir 1136 H bersamaan tanggal 23 Maret 1724 M pukul 13.00 dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin Khalifatul Mukminin Sayidul Imam.

         Sebagai Sultan, ia adalah tokoh pembangunan yang modernis baik dalam bidang fisik, ekonomi maupun tata sosial dalam membangun Kesultanan Palembang Darussalam. Pembangunan yang dilaksanakannya, mempunyai visi modern, religius dan monumental, di antaranya: Gubah Talang Kerangga (1728), Gubah Kawah Tekurep (1728), Keraton Kuto Lamo (1737) dan Masjid Agung (1738).       

Putera-Puteri (zuriat) Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo

Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo memiliki dua belas orang isteri, masing-masing mereka adalah: Fatimatuzzahra binti Ibrahim (dari Kelantan), Masayu Ratu (dari Makassar), Raden Ayu Rangda binti Sultan Agung Komaruddin (Palembang), Nyimas Naimah binti Kemas Tumenggung Jumpong (mertua Jero Pager) di Palembang Lamo, Raden Ayu Ciblung binti Pangeran Subekti, Zamiah Masayu Ratu binti Datuk Dalam bin Datuk Nandam Cina negeri Siantan, Nyimas Milam, Nyimas Piah, Masayu Dalem binti Haji Abdul Khaliq bin Tok Dalam, Nyimas Ropit, Nyai Dalam anak Cina (Semarang), dan Nyimas Bakul. Dari pernikahannya ini, ia dikaruniai sekitar 33 orang anak.

  1. Permaisuri yang pertama bernama Raden Ayu Ciblung binti Pangeran Subekti, dari perkawinan ini memperoleh 2 orang putera, yaitu:
  1. Pangeran Ratu Kamuk Raden Belani
  2. Sultan Ahmad Najamuddin
    1. Dengan isterinya Zamiah Masayu Ratu binti Datuk Dalam bin Datuk Nandam (Cina negeri Siantan), memperoleh 4 orang anak:
  1. Pangeran Arya Rustam
  2. Pangeran Adipati Banjar Kutama Raden Pelit
  3. Raden Ayu Fatimah
  4. Raden Ayu Aisyah
    1. Dengan isterinya Ratu Rangda binti Sultan Agung, memperoleh 2 orang anak:
  1. Pangeran Arya Panembahan Muhammad Zainuddin
  2. Raden Ayu Jendul
    1. Dengan isterinya Nyimas Milam, memperoleh 4 orang anak:
  1. Pangeran Surya Dilaga Raden Temenggung
  2.  Pangeran Nata Kesuma Raden Bali
  3.  Raden Ayu Bugis
  4.  Pangeran Kesuma Dilaga Raden Cupit
  5. Dengan isterinya Nyimas Piah, memperoleh 3 anak:
  1.  Raden Ayu Maryam
  2.  Raden Ayu Mariah
  3.  Pangeran Sulaiman (w. Lagi kecil)
  4. Dengan isterinya Masayu Dalem binti Haji Abdul Khaliq bin Tok Dalem, memiliki seorang puteri:
  5.  Raden Ayu Karimah
  6. Dengan isterinya Nyimas Ropit, memperoleh 2 orang puteri:
  1.  Raden Ayu Aminah
  2.  Raden Ayu Sumbul
  3. Dengan isterinya Nyimas Naimah bin Kemas Jumpong Mertua Jero Pager, memiliki 4 orang anak:
  1.  Pangeran Muhammad Yusuf (w. Tidak ada anak)
  2.  Pangeran Cik
  3.  Raden Ayu Jamilah
  4.  Raden Ayu Jamilan (w. Lagi kecil)
  5. Dengan isterinya Nyai Dalem anak Cina (Semarang), memperoleh 4 orang anak:
  1.  Pangeran Marta Kesuma Usman
  2.  Raden Ayu Arifah
  3.  Raden Komering
  4.  Raden Ayu Salimah
  5. Dengan isterinya Nyimas Bakul, memperoleh seorang puteri:
  6.  Raden Ayu Sofiah
  • Dengan isterinya yang lain, Sultan mahmud badaruddin Jayo Wikramo dianugerahi 5 putera-puteri lagi:
  1.  Raden Sungai Rendang Muhammad Said
  2.  Raden Muhammad Husin
  3.  Raden Ibrahim
  4.  Raden Ayu Natijah
  5.  Raden Ayu Dariah.

Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo wafat pada malam Sabtu, tanggal 3 Muharram 1171H bersamaan 17 September 1757M dalam usia 68 tahun. Dimakamkan di Gubah Kawah Tekurep di Lemabang. Oleh sebab itu, ia dikenal dengan sebutan SUNAN LEMABANG.

MAKAM SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM KE-IV (EMPAT)

Sultan Mahmud Badaruddin Jayowikramo Bin Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago ( 1724 – 1758 )

SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM KE-V (LIMA)

6. Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adikesumo Bin Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo

Beliau juga sebagai salah satu Sultan Palembang yang alim dan bijaksana.Nama lengkapnya ialah Sultan Ahmad Najamuddin anak Sultan Mahmud Badaruddin Lemabang

         Ibunya bernama Raden Ayu Ciblung binti Pangeran Surya Wikrama Subekti bin Sunan Abdurrahman Candi Walang. Ia dilahirkan sekitar tahun  1710 M di lingkungan Keraton Palembang. Putera ke 2  dari 32 bersaudara.

         Sebagaimana biasanya di lingkungan keraton, pendidikan awalnya didapat dari ayahnya sendiri, Sunan Lemabang, kemudian ia menuntut ilmu agama pula kepada ulama-ulama besar Palembang waktu itu seperti: Faqih Jalaluddin, Khatib Ahmad Marta Kusuma, Syekh Sayid Abdurrahman Maula Taqoh, dll. Gurunya yang tersebut terakhir ini seorang habib yang menjabat sebagai ulama dan imam di kesultanan.

         Selain dikenal sebagai ulama dan waliyullah, ia juga sebagai tokoh pembangunan baik dalam bidang fisik maupun ekonomi.         

         Pada tahun itu juga ia membangun menara Masjid Agung Palembang (menara lama). Sedang untuk pemakamannya, ia membangun “Gubah Tengah” di komplek Kawah Tekurep Lemabang.

         Dalam bidang ekonomi, ia mulai  mengadakan kontrak dagang dengan kompeni Belanda terutama lada dan timah , serta memperbaharui surat-surat perjanjian lainnya yang dibuat pada masa Sunan Abdurrahman (1662, 1678, 1679, 1681, 1691), Sultan Agung (1722) dan Sunan Lemabang (1755), dll.

Putera-Puteri Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adikesumo

         Sultan Ahmad Najamuddin  mempunyai lebih  delapan orang isteri, yang tertua ialah Permaisuri Ratu Sepuh Raden Ayu Murti  binti Pangeran Arya Kusuma Cengek bin Pangeran  Ratu Purbaya, Masayu Kedaton Brunai, Nyimas Banowati, Masayu Kecik, Masayu Sa’diyah, Masayu Buri, Masayu Kasiah, Nyimas Tijah, dan lain-lain. Dari perkawinannya ini dianugerahi 46 orang anak.

  • Dari perkawinannya dengan Permaisuri Ratu Sepuh Raden Ayu Murti binti Pangeran Arya Kesuma Cengek bin Pangeran Purbaya, sultan memperoleh 7 orang putra-putri yaitu:
  1. Sultan Muhammad Bahauddin,
  2. Pangeran Dipa Kusuma Balkia,
  3. Pangeran Purba Abdullah,
  4. Raden Ayu Jaya Kusuma,
  5. Raden Ayu Adi Wijaya,
  6. Raden Ayu Nata Wikrama  
  7. Raden Syawal.
  8. Dari isterinya Masayu Kedaton anak Raja Brunai, memperoleh 3 anak:
  1. Pangeran Suro Wijaya Syamsuddin
  2. Pangeran Suta Wijaya Syahabuddin
  3.  Raden Ayu Habibah
  4. Dari isterinya Nyimas Banowati, memilki 3 orang anak:
  1. Raden Ayu Maria
  2. Raden Ayu Latiyah
  3.  Raden Ali
  4. Dari Isterinya Masayu Kecik binti Pangeran Adi Wijaya, memperoleh seorang putera:
  5. Pangeran Suta Wijaya Hasanuddin
  6. Dari isterinya Masayu Sa’diyah binti Raden Tegal, memperoleh 2 anak:
  1.  Pangeran Suta Dinata Muhammad Tahir
  2.  Pangeran Suta Wikrama Muhammad Bakir.
  3. Dengan isterinya Masayu Buri binti Encik Jakfar Mentok, mempunyai seorang putri:
  4.  Raden Ayu Zakiah Cek Buri.
  5. Dari isterinya Masayu Kasiyah, mempunyai  2 puteri:
  1.  Raden Ayu Husnah
  2.  Raden Ayu Jamilah.
  3. Dari isterinya Nyimas Tijah, ia memperoleh seorang putri:
  4.  Raden Ayu Siti.
  5. Dari isterinya-isterinya yang lain, memperoleh 26 orang anak lagi, yaitu:
  1. Raden Leteng (tidak ada anak)
  2. Raden Bali Bendung
  3.  Pangeran Wangsa Dinata Mansur
  4. Pangeran Marta Kesuma Said
  5. Pangeran Jaya Dinata Ahmad
  6. Pangeran Wira Dinata Basyir
  7.  Raden Usman
  8.  Raden Jamaluddin
  9.  Raden Abdul Wahab
  10.  Pangeran Purba Gubir Shafiuddin
  11.  Pangeran Wira Dikara Jamiluddin
  12.  Pangeran Wira Wijaya Hamid
  13.  Raden Timbal Muddasir
  14.  Raden Kamiluddin
  15.  Raden Koret Rodhiuddin
  16.  Raden Ayu Penghulu
  17.  Raden Umar (tidak ada anak)
  18.  Raden Sami’un
  19.  Raden Daruddin
  20.  Raden Qosim (tidak ada anak)
  21.  Raden Ayu Khadijah (tidak ada anak)
  22.  Raden Ayu Nata Diraja Manisyah
  23.  Raden Ayu Hanifah
  24.  Raden Ayu Maliah
  25.  Raden Ayu Halif
  26.  Raden Ayu Jentuk Toyibah (tidak ada anak)

Sultan Ahmad Najamuddin wafat tanggal 6 Zul Qaidah 1190H (1776), malam Senin. Dimakamkan di Gubah Tengah

Makam Sultan Palembang Darussalam ke V (Lima)

Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo Bin Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (1758 – 1776)

SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM KE-VI (ENAM)

 Sultan  Muhammad Bahauddin Bin Sultan Susuhunan Ahmad  Najamuddin Adi kesumo

Beliau sebagai Sultan Palembang ke 6  yang alim dan bijaksana.Nama lengkapnya ialah Sultan Muhammad Bahauddin anak Sultan Ahmad Najamuddin

         Ibunya bernama Ratu Sepuh Raden Ayu Murti binti  Pangeran Arya Kusuma Cengek bin Pangeran Purbaya bin Sunan Muhammad Mansur bin Sunan Abdurrahman Candi Walang. Beliau dilahirkan pada malam Selasa tanggal 15 Sya’ban 1141 H atau tahun  1728 M di lingkungan Keraton Palembang. Putera mahkota dari 46 bersaudara.

         Sebagaimana biasanya di lingkungan keraton, pendidikan awalnya didapat dari ayahnya sendiri, kemudian ia menuntut ilmu agama pula kepada ulama-ulama besar Palembang waktu itu seperti: Sayid Khatib Ali, Syekh Kgs.H. Hasanuddin bin Jakfar, Syekh Muhammad Samman, Syekh Abdus Somad al-Palembani, dll. Kepada Syekh Muhammad Samman, ia mengambil talkin dan bai’at Tarekat Sammaniyah. Melalui beliaulah Tarekat Sammaniyah yang zikirnya dikenal dengan Ratib Samman menjadi amalan resmi di Kesultanan Palembang Darussalam.

         Selain dikenal sebagai ulama dan waliyullah, ia juga sebagai tokoh pembangunan baik dalam bidang fisik maupun ekonomi. Pada tahun 1780 ia membangun Istana Benteng Kuto Besak. Sedang untuk pemakamannya ia membangun Gubah Luan di komplek Lemabang.

         Pada bulan Agustus 1774, para pangeran, menteri dan bawahannya secara musyawarah mengangkat Pangeran Ratu menjadi Sultan Muhammad Bahauddin dan ayahnya Sultan  Ratu Ahmad Najamuddin menjadi Susuhunan Ratu Kesultanan Palembang Darussalam. Dua tahun kemudian ayahnya wafat (1776).

Kesultanan Palembang mengalami kemakmuran pada saat Sultan Bahauddin memerintah. Pada saat itu Palembang menjadi salah satu empat Pusat Sastra Agama Islam Nusantara (Islamic Centre) setelah Aceh. Tokoh-tokoh ulama besar dan penulispun bermunculan.

         Pada tahun 1777, ia mengirimkan uang sebesar 500 Real untuk wakaf pembangunan Zawiyah (Pondok) Sammaniyah di Jeddah yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Muhyiddin bin Shihabuddin al-Palembani.

         Al-Hasil, naskah sejarah Palembang mencatat pada masa Sultan Bahauddin mengalami kemakmuran: “Dan rakyat seisi negeri dengan segala jajahan itu banyak beruntung, sebab negeri sentosa. Segala dagang pun banyak masuk dari laut dan dari darat dan dari hulu, karena Raja Palembang pada zaman itu terlalu adil sentosa perintahnya memeliharakan segala rakyat negeri dan sekalian dagang.” 

         Sultan Muhammad Bahauddin memiliki beberapa orang isteri di antaranya ialah Ratu Agung binti Datuk Murni bin Abdullah al-Haddadi, dari perkawinannya ini ia dikaruniai 23 orang anak, namun yang terkenal dari satu ibu ialah:

1.  Raden Hasan (Susuhunan/Sultan Mahmud Badaruddin II)

2.  Raden Ayu Purbaya Negara Naqiyah

3.  RA. Mangku Negara Hamidah

4.  RA. Wikrama Hasyiyah

5.  Sultan Husin Dhiauddin

6.  RA.Suta Wikrama Bariyah

7.  RM. Hanapiah

8.  Pangeran Bupati Panembahan Hamim

9.  Pangeran Adipati Abdurrahman

 dari isteri yang lain beliau yang bernama Yang Pipah bergelar Mas Ayu Ratu Dalam Puteri Temenggung Karto Mengalo dari Mentok  dan dari isteri yang lain mempunyai beberapa putra putri yaitu :

10.Pangeran Jaya Kramo

11.Pangeran Raden Dito

12.Pangeran Citro Kramo

13.Pangeran Nato Kramo

14.Pangeran Nato Nincito

15.Pangeran Nato Wikramo

16.Pangeran Nato Wijano

17.Pangeran Penghulu Nato Kesumo

18.Pangeran Nato Wijano Krama Mahjub

19.Pangeran Nato Wiguno

20.Raden Ibrahim

21.Raden ayu Marto

22.Raden Ayu Nanggaro

23.Raden Ayu Suto Kramo

24.Raden Ayu Zaleha

         25.Raden Ayu Hali

Sultan Muhammad Bahauddin wafat hari Senin tanggal 21 Zulhijah 1218 H atau 2 April 1804 Masehi. Dimakamkan di Gubah Lemabang.

Makam Sultan Palembang Darussalam ke VI (ENAM)

 Sultan Muhammad Bahauddin Bin Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo ( 1776 – 1803 )

SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM KE-VII (TUJUH)

                   Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin 

                 Bin Sultan Muhammad Bahau’ddin

         Beliau sebagai Sultan Palembang Darussalam  ke VII  yang alim dan bijaksana. Nama lengkapnya ialah Raden Muhammad Hasan anak Sultan Muhammad Bahauddin       Ibunya bernama Ratu Agung bin Datuk Murni bin Abdullah al-Haddadi. Ia dilahirkan pada hari Ahad tanggal 1 Rajab 1181H atau 1767M. Di lingkungan keraton. Sebagaimana putra mahkota, ia dididik dan ditempa untuk menjadi pewaris tahta Kesultanan Palembang. Pendidikan agamanya didapat dari ulama besar waktu itu seperti: Syekh Abdus Somad al-Palembani, Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin, Syekh Ahmad bin Abdullah,Syekh Kms.Muhammad bin Ahmad, dan Sayid Abdurrahman al-Idrus. Kepada Syekh Abdus Somad, ia mengambil dan mengamalkan Tarekat Sammaniyah.

         R.M.Hasan memiliki kemauan yang besar untuk belajar dan mempunyai otak yang cerdas. Ia menguasai bahasa Arab dan Portugis serta hafal kitab suci al-Qur’an.

         Raden Muhammad Hasan dinobatkan menjadi Sultan palembang Darussalam ke VII  pada hari Senin  tanggal 21 Zul Hijjah 1218H bersamaan 3 April 1804M setelah ayahnya wafat, dengan gelar Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin  Khalifatul Mukminin Sayidul Imam.

         Selain sebagai sultan, ia juga seorang ulama saleh, imam besar Masjid Agung, tokoh Tarekat Sammaniyah, penulis, seorang olahragawan terutama pencak silat dan bidar. Ia sangat gemar membaca dan menulis, mempelajari ilmu pengetahuan baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, diantaranya kitab-kitab Yunani, Arab dan Mesir, tentang kemasyuran Iskandar Yang Agung, Perang Salib, kedatangan bangsa-bangsa Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda ke Malaka, Aceh, Jawa dan Maluku. Ia memiliki wawasan yang luas dengan didukung oleh koleksi perpustakaannya di keraton yang cukup banyak. Ia sangat terpelajar, organisator yang baik, diplomat ulung, ahli pertahanan yang pintar dan cekatan.

         Kitab-kitab karangannya antara lain: Syair Nuri, Pantun Sipelipur Hati, Sejarah Raja martalaya, Nasib Seorang Kesatria Signor Kastro, dll.

                  Sultan Mahmud Badaruddin menjabat sebagai sultan selama tujuh tahun bergantian dengan adiknya Sultan / Sultan Susuhunan Husin Dhiauddin,Selama pemerintahannya, sering terjadi beberapa pertempuran dengan Belanda dan Inggris yang ingin menguasai Palembang, seperti peristiwa pada tahun 1811, 1819 dan 1821. Dalam Bulan Desember  tahun 1819  Sultan Mahmud Badaruddin  menobatkan  Putra Sulungnya menjadi Sultan  dengan Gelar Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu (1819 – 1821) , dan Sultan Mahmud Badaruddin  bergelar Susuhunan menjadi Sultan Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin

Setelah  perang dengan penjajah Kompeni  Belanda pada tanggal 3 Juli 1821  Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin dan Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu beserta keluarganya diasingkan dan dibuang ke Ternate Maluku Utara. Akibat politik kolonial “Devide et Empera” (adu domba).Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin Raden hasan  wafat di Ternate pada hari Jum’at tanggal 26 Nopember 1852 bersamaan 14 Safar 1269H dalam usia 84 tahun dalam pengasingannya selama 32 tahun.

Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin memiliki 9 orang isteri diantaranya: Embok Pati Rasmi, Ratu Sepuh Asma, Ratu Anom Kosimah,  Ratu Anom Kosimah, Nyayu Soleha, Nyimas Jairah, Nyayu Robi’ah, Mas Ayu Ratu Ulu, Mas Ayu Ratu Ilir, Ratu Alit. Dari perkawinannya ini ia dikaruniai 62 anak.

  • Dengan isteri pertamanya Embok Pati Rasmi, melahirkan seorang puteri, yaitu:
  1. Raden Ayu Kramo Jayo Hatimah
  2. Dengan isterinya Ratu Sepuh Asma binti Pangeran Adipati Banjar Kutma bin Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, melahirkan 13 orang anak:
  1. Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu
  2. Pangeran Bupati Hamzah
  3. Raden Ayu Halimah
  4. Pangeran Prabu Kesumo Abdul Hamid
  5. Raden Ayu Purboyo Fatimah
  6. Pangeran Prabu Wijaya Husin
  7. Raden Ayu Azimah
  8.  Raden Ayu Azimah Cek Ayu
  9. Wafat waktu bayi
  10. wafat waktu bayi
  11. wafat waktu bayi
  12. Wafat waktu bayi
  13. Wafat waktu bayi

Dengan isterinya Ratu Anom Kosimah, memiliki 10 orang anak:

  1. Pangeran Prabu Nindito Muhammad
  2. Raden Ayu Kramo Nato Hasanah
  3. Pangeran Prabu Dilaga Mukhsin
  4. Raden Ayu Fatimah
  5. Raden Ayu Salma
  6. Pangeran Surya Dilaga Toha
  7. Raden Ayu Suha
  8.  Raden Ayu Nur
  9. wafat lagi bayi
  10. wafat lagi bayi
  11. Dengan isterinya Nyayu Soleha, mempunyai 2 orang putera:
  1. Pangeran Suto Wijaya Usman
  2. Pangeran Suto Krama Akil

Dengan isterinya Nyimas Jairah, memperoleh 2 orang anak:

  1. Pangeran Suto Dirajo Abubakar
  2.  Raden Ayu Kramo Dirajo Salimah

Dengan isterinya Nyayu Robi’ah, melahirkan seorang putera:

  1. Pangeran Putera Dinata Ali

Dengan isterinya Masayu Ratu Ulu Nyimas Zubaidah binti Kemas Haji

Muhammad bin Kms.H. Ahmad, dikaruniai 9 putera-puteri:

  1. Raden Ayu Kramo Diwangso Najimah
  2. Raden Ayu Azimah istri syayid umar Bin muhammad Assegaf
  3.  Pangeran Prabu Diraja Abdullah
  4. Raden Ayu Nazimah
  5. Pangeran Prabu Wikramo Abdurrahman
  6. Pangeran Prabu Wikramo Tohir
  7. Raden Ayu Zakiah
  8. Raden Ayu Hajima
  9. Raden Ayu Aminah
  • Dengan isterinya Masayu Ratu Ilir, memperoleh 9 orang anak:
  1. Pangeran Prabu Menggala Umar
  2. Pangeran Prabu Diwangsa Zen
  3. Raden Ayu Azizah
  4. Raden Masyhur
  5. Raden Ayu Maryam
  6. Pangeran Idrus
  7. Raden Ayu Cik
  8.  Pangeran Prabu Nata Menggala Alwi
  9.  Raden Ayu Alwiyah.
  • Dengan isterinya Ratu Alit, dikaruniai 15 orang putera-puteri:
  1. Pangeran Prabu Dikara asin
  2. Raden Ayu Soha
  3. Raden Ayu Salma
  4. Raden Ayu Sidah
  5. Raden Kosim
  6. Raden Ayu Nur
  7. Pangeran Surya Kesuma Syekh
  8. Raden Ayu Ayu (wafat masih bayi)
  9. Pangeran Kesuma Menggala Mahdor
  10. Pangeran Kesuma Nindita Dain
  11. Raden Ayu Zahra
  12. Raden Ayu Habibah
  13. Raden Ayu Latifah
  14. Pangeran Kesuma Diraja Muhammad Sapin
  15. Pangeran Kesuma Dimekaya Hanan

Makam Sultan Palembang Darussalam ke VII (TUJUH) DI TERNATE

 Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin   Bin

Sultan Muhammad Bahauddin (1803 – 1821 )

SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM KE-VIII (DELAPAN)

Sultan Susuhunan Husin Diauddin Bin Sultan Muhammad Bahauddin

Beliau sebagai Sultan Palembang Darussalam ke 8 . Nama lengkapnya ialah Pangeran Adimenggala Raden Muhammad Husin anak Sultan Muhammad Bahauddin

         Ibunya bernama Ratu Agung binti Datuk Murni bin Abdullah al-Haddadi. Ia dilahirkan pada hari Sabtu tanggal 1 Syawal 1183H atau 1769M. Di lingkungan keraton. Sebagaimana putra raja, ia dididik dan ditempa untuk menjadi pewaris tahta Kesultanan Palembang. Pendidikan agamanya didapat dari ulama besar waktu itu seperti: Syekh Abdus Somad al-Palembani, Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin, Syekh Ahmad bin Abdullah,Syekh Kms.Muhammad bin Ahmad, dan Sayid Abdurrahman al-Idrus. Kepada Syekh Abdus Somad, ia mengambil dan mengamalkan Tarekat Sammaniyah.

         RM.Husin semasa kanak-kanaknya adalah seorang anak yang manja dan menjadi kesayangan ibunya meskipun ia merupakan putra kedua dari sembilan bersaudara yang terkenal dari satu ibu yaitu Ratu Agung. Saudaranya yang tertua ialah R.M.Hasan Pangeran Ratu.

         Ibunya Ratu Agung, selagi kedua anaknya ini masih muda, maka ia selaku permaisuri pernah memohon kepada suaminya Sultan Muhammad Bahauddin, agar RM. Husin nantinya bisa diangkat menjadi raja menggantikan Sultan Bahauddin. Maka di dalam suatu musyawarah Negara yang sengaja diadakan untuk membicarakan masalah tersebut, dimana permaisuri beserta kedua putra Raja dan para pembesar ikut hadir, maka Majelis tersebut mengambil keputusan bahwa tiap-tiap orang yang dilahirkan lebih dahulu dari yang lainnya itu tentu sudah  kehendak Allah SWT. Jua dan tentu tidak percuma pula dan sudah tentu ada maksud serta tujuannya. Oleh karena itu maka yang muda harus menghargai yang lebih tua umurnya dan yang muda harus menerima nasehat dari yang lebih tua. Oleh sebab itu pulalah maka dicantumkan hal ini didalam Adat istiadat silsilah adab sopan santun Palembang, sehingga putra yang tertualah yang berhak menjadi pengganti ayahnya sebagai raja.

         Yang menggantikan ayahnya sebagai Sultan ialah saudara tuanya Sultan Mahmud Badaruddin Raden Hasan yang dikenal dengan Sunan Tuo. Kemudian pada tanggal 14 Mei 1812, R.M.Husin dilantik sebagai Sultan dengan gelar Sultan Husin Dhiauddin atau dikenal dengan Sunan Mudo mendampingi kakaknya Sunan Tuo.

Putera-Puteri (zuriat) Sultan Husin Dhiauddin

         Sunan Mudo Husin Dhiauddin memiliki beberapa orang isteri, dari perkawinannya ia memiliki 25 orang anak diantaranya:

  1. Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom
  2. Pangeran Bupati Jaya Ningrat
  3. Pangeran Arya Kusuma Mahbub
  4. Pangeran Citra Diningrat
  5. Pangeran Adimenggala
  6. Raden Ayu Putri Nurus Sanah (satu ibu)
  7. Dari yang lain ibu yaitu:
  1. Pangeran Suta Nalindro Mahjub,
  2. Pangeran Suta Nindito Mahfi,
  3. Pangeran Suta Krama Muhsin,
  4. Raden Abubakar,
  5. R.Sanusi,
  6. R.Asik Khalil,
  7. R. Abdurrahman,
  8. R.Umar Khatib,
  9. R.Usman,
  10. R.Zainal Abidin,
  11. RA.Adi Wijaya,
  12. RA.Jaya Dinata,
  13. RA.Jaya Nindita,
  14. RA.Jaya Wikarta,
  15. RA.Jaya Kusuma,
  16. Pangeran Kecik,
  17. RA.Salimah,
  18. RA.Maryam,
  19. ……………..

Sultan Susuhunan Husin Dhiauddin diasingkan ke Kerukut Betawi oleh Belanda  pada 6 Desember 1824. Dan pada tanggal 4 Rajab 1240 H ia wafat. Kemudian makamnya dipindahkan ke Komplek Kawah Tekurep Lemabang pada tahun 1986.

8

Makam Sultan Palembang Darussalam ke VIII (DELAPAN)

 Sultan Susuhunan Husin Dhiauddin Bin Sultan Muhammad Bahauddin ( 1813 – 1817 )

DIBUANG BELANDA DI KRUKUT BETAWI DAN PADA TAHUN 1986 DIPINDAHKAN KE PEMAKAMAN KAWA TEKUREP PALEMBANG

SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM KE-IX (SEMBILAN)

      Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu Bin Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin

Beliau sebagai Sultan Palembang ke 9  yang memerintah dimasa akhir Kesultanan Palembang Darussalam. Nama lengkapnya ialah Pangeran Ratu Prabu Negara anak Sultan Mahmud Badaruddin  Atau lebih dikenal dengan sebutan “Sultan Ahmad Najamuddin  Pangeran Ratu”.

         Ibunya bernama Ratu Sepuh Asma. Ia dilahirkan pada tahun 1789 di lingkungan keraton. Merupakan putra sulung dari 13 bersaudara yang terkenal dari satu ibu. Sebagaimana Putra Mahkota, ia dididik dan ditempa untuk menjadi pewaris tahta Kesultanan Palembang. Pendidikan agamanya didapat dari ulama besar waktu itu seperti: Syekh  Kgs.Muhammad Akib, Kgs.Muhammad Zen, Kms.Muhammad bin Ahmad, Sayid Muhammad Arif Jamalullail, dll.Kepada Syekh Kgs. Muhammad Akib, ia mengambil dan mengamalkan Tarekat Sammaniyah.

         Pada masa ayahnya menjadi sultan, ia menjabat sebagai komandan pertahanan Benteng Martapura di perairan Sungai Musi. Kemudian ia dinobatkan oleh ayahnya menjadi sultan Palembang pada bulan Desember 1819 dengan gelar SRI PADUKA SULTAN AHMAD NAJAMUDDIN  PANGERAN RATU PRABU NEGARA (memerintah: 1819-1821), sedang ayahnya Sultan Mahmud Badaruddin bertambah gelar menjadi Susuhunan. Meskipun demikian, untuk menentukan kebijakan pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam masih dijalankan oleh Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin.

         Kesultanan Palembang Darussalam pada masa itu telah didatangi bangsa asing terutama Belanda dan Inggris, sehingga seringkali terjadi pertempuran. Namun walaupun demikian, Kesultanan Palembang Darussalam mengalami kemakmuran. Dari segi perekonomian, kehidupan Palembang mengalami kemajuan. Harga sembako terutama beras sangat murah. Hanya harga garam agak melambung. Pada masa ini pula  Palembang telah dapat membuat meriam sendiri serta mesiu dan pelurunya.

         Setelah Keraton Palembang diduduki oleh Belanda, ia dan anggota keluarganya diasingkan. Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin, Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu  dan keluarga serta sanak sahabatnya yang dekat dinaikkan ke kapal perang Belanda pada tanggal 3 Juni 1821 ke Betawi. Mereka berlabuh  di Pelabuhan Cilincing dan kemudian ditempatkan di benteng pertahanan Jatinegara. 8 bulan kemudian (Maret 1822), diberangkatkan ke Ternate setelah mengalami pemeriksaan yang sangat kejam dan diluar prikemanusiaan.

         Sultan Ahmad Najamuddin  Pangeran Ratu  akhirnya wafat di Ternate pada malam Ahad tanggal 2 Rajab 1277H atau tahun 1860M, jam 03.00 pajar, dalam usia 71 tahun 2 bulan, 16 hari, 21 jam.

Putera-Puteri (zuriat) Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu

         Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu mempunyai beberapa orang isteri, dari perkawinannya ia memiliki 11 orang putra-putri yang zuriatnya masih ada sampai sekarang, yaitu:

  1. Raden Haji Bir,
  2. Pangeran Prabu Tenaya,
  3. Raden Toyib,
  4. Raden Kafin,
  5. Raden Munir,
  6. Raden Ayu Halimah,
  7. Raden Ayu Nakiyah,
  8. Raden Ayu Sabihah,
  9. Raden Ayu Hasiah,
  10. Raden Ayu Zubaidah
Makam Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu

Makam Sultan Palembang Darussalam ke IX (SEMBILAN)

DI TERNATE

 Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu Bin

Sultan SusuhunanMahmud Badaruddin

( 1819 – 1821 )

SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM KE-X (SEPULUH)

 Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom BiN Sultan Susuhunan Husin Dhiauddin

Beliau sebagai Sultan Palembang   yang terakhir. Nama lengkapnya ialah Pangeran Prabu Anom anak Sultan Husin Dhiauddin Atau lebih dikenal dengan sebutan “Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom”.

         Ia dilahirkan pada tahun 1795 di lingkungan keraton. Merupakan putra sulung dari 6 bersaudara yang terkenal dari satu ibu. Sebagaimana Putra Mahkota, ia dididik dan ditempa untuk menjadi pewaris tahta Kesultanan Palembang. Pendidikan agamanya didapat dari ulama besar waktu itu seperti: Syekh  Kgs.Muhammad Akib, Kgs.Muhammad Zen, Kms.Muhammad bin Ahmad, Sayid Muhammad Arif Jamalullail, dll.Kepada Syekh Kgs. Muhammad Akib, ia mengambil dan mengamalkan Tarekat Sammaniyah.

         Ia dinobatkan oleh ayahnya Sultan Husin Dhiauddin menjadi sultan Palembang pada tanggal 16 Juli 1821 dengan Gelar gelar SRI PADUKA SULTAN AHMAD NAJAMUDDIN  PRABU ANOM , sedang ayahnya Sultan menjadi Susuhunan. Meskipun demikian, untuk menentukan kebijakan pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam masih dijalankan oleh Ayahnya.

         Masa itu adalah saat-saat terakhir berdaulatnya Kesultanan Palembang Darussalam. Dipenghujung puncak keemasan kesultanan ini telah didatangi bangsa asing terutama Belanda dan Inggris, sehingga seringkali terjadi pertempuran. Namun walaupun demikian, Kesultanan Palembang Darussalam mengalami kemakmuran. Dari segi perekonomian, kehidupan Palembang mengalami kemajuan. Harga sembako terutama beras sangat murah. Hanya harga garam agak melambung.

         Setelah keraton ditaklukan habis  oleh Belanda, Kesultanan Palembang Darussalam  berakhir. Namun Prabu Anom masih melakukan perlawanan, beberapa kali ia mengadakan pemberontakan di ibu kota sampai ke daerah-daerah, mengamuk dan menyerang pasukan Belanda. Oleh karena inilah ia juga diberi gelar SULTAN AMUK hingga ia tertangkap dan diasingkan ke Banda pada tahun 1825 dan di pindahkan ke Menado.

Putera-Puteri (zuriat) Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom

         Sultan Prabu Anom meninggalkan beberapa orang isteri, yaitu: Nayu Ratu Maryam, Embok Nayu, Embok Raden, Embok Raden Cinto Rasmi dan Embok Jalima.

– Dari pernikahannya dengan Embok Jalima, ia memilki 3 orang anak, yaitu:

1. Raden Ayu Nakiyah

2. Raden Muhammad Ali

3. Raden Abdurrahman

Dari keturunannya ini berkembanglah zuriatnya hingga sekarang

Pada tanggal 21 Jumadil Awal 1260H atau tahun 1844, Sultan Ahmad Najamuddinn Prabu Anom wafat di Manado dalam usia 49 tahun, 3 bulan, 7 hari dan sampai sekarang keberadaan makam Sultan Prabu anom di Menado belum diketemukan.

         Demikianlah sejarah  Sultan-Sultan Palembang yang telah memerintah di Kesultanan Palembang Darussalam dengan adil dan sentosanya, para Sultan Palembang adalah mereka sebagai Amirul Mukminin yang sebagian besar mereka adalah para Waliyullah. Wallahu a’lam.       

Related Posts
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *