SUKSESI Di KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM

Oleh :

Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin

Suksesi di Kesultanan Palembang Darussalam

SEKAPUR SIRIH

Bismillahirrahmanirrahim

Sumatera Selatan salah satu provinsi di Indonesia yang sangat kaya akan sumber daya alam dan hasil buminya. Provinsi yang melaju sebagai kota industri, dewasa ini telah membuktikan eksistensi dirinya ditengah kancah persaingan global dunia Internasional. Palembang sebagai Ibukota yang juga menyandang sebagai kota dagang, kota perniagaan atau bisnis, banyak menghasilkan minyak, batu bara, semen, dan bahan-bahan energi lainnya. Maka tidaklah berlebihan kiranya Palembang dikatakan sebagai barometer dan pintu gerbang Andalas Selatan yang penuh potensi dan kemampuan menopang pembangunan bangsa Indonesia. Palembang adalah salah satu kota tertua diantara kota-kota lainnya di Indonesia, memiliki sejarah yang gemilang pada masanya dengan adat istiadat dan sosial budaya yang luhur sebagai warisan sejarah masa lampau. Di sini pernah berdiri Kerajaan,  dan Kesultanan Palembang Darussalam yang kebudayaan serta keharuman namanya sudah cukup dikenal di Nusantara maupun Manca Negara. Namun sayangnya apa yang terjadi dimasa lalu tersebut sampai kini masih belum terekam dan terkuakan betul, sehingga memerlukan penelitian ilmiah lebih lanjut.

Risalah kecil ini secara khusus menceritakan tentang,Suksesi di Kerajaan dan Kesultanan Palembang Darussalam. Buku-buku tentang sejarah dan kebudayaan Palembang selama ini dirasakan masih kurang dan langka, sehingga kehadiran risalah ini dapat mengisi kelangkaan khasanah pustaka tentang Kerajaan dan Kesultanan Palembang  Darussalam  agar dapat diketahui oleh generasi penerus kita.

Mudah-mudahan dengan terbitnya risalah ini dapat dipergunakan sebagai bahan pendidikan di sekolah dan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat, baik pada masa sekarang maupun untuk masa-masa mendatang.

Akhirnya tak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada semua pihak yang telah mendukung disusunnya risalah ini. Kami menyadari tentunya tak ada gading yang tak retak, demikian pula risalah ini mungkin masih banyak kekurangannya, untuk itu keritik dan saran sangat kami nantikan. Semoga risalah sederhana ini mendapat sambutan yang memuaskan dari pembaca yang ingin mengetahui sejarah Kerajaan dan Kesultanan Palembang Darussalam serta bermanfaat bagi generasi muda kita.

                                                                  

    Wassalam,

Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin   

      Sultan Palembang Darussalam

Kerajaan Palimbang

Radja-Radja jang memerentah Palembang

Disini akan penoelis tambahkan silah-silah ketoeroenan radja-radja jang memerintah keradjaan Pelimbang itoe sesoedahnja zaman,, Sriwidjaja” kira-kira pada abad jang ke X jang terpetik dari bebebrapa kitab-kitab koeno jang didapat dari beberapa toean-toean dikota Palembang.

Kota Palembang sekarang diberi nama ;;Palembang” ialah tempat orang melimbang (membasoeh) mas tempatnja agak kehoeloe kota Palembang sekarang ini. Menoeroet beberapa kitab-kitab asal-oesoel jang terseboet diatas tadi, Radja Palembang dahoeloe berasal dari zoeriat S a y i d i n a H o e s a i n, tjoetjo baginda Rasoelellah S.A.W. Adapoen tjoetjoenda itoe berpoetrakan Zainal abidin jang berpoetra

Sajidina Moehamad Al Bakir berpoetera                              

“                                     Djakfar Siddik                            “

“                                     A’ijl Aridhon                               “

“                                     Moehamad Nakib                        “

“                                     Isyin Nakib                                “

“                                     Almahadjir Illallah Achmad          “

“                                     Abdullah                                    “

“                                     Alwi                                          “

“                                     Ali Cholik Kastine                        “

“                                     Moehamad Shohib                      “

“                                     Alwi                                          “

S.                                    Emir Abdul Malik                        “

S.                                    Abdullaghon                              “

S.                                    Achmad Sjah Djalah                    “

Maulana Djamaloedin Al akbar jang terseboet blakangan inilah jang tersboet belakangan

inilah jang pertama membawah anak-anak tjoe-tjoenja ka Asia anak-anaknja  jaitoe;

  1. Sembahan dewa Agoeng Faharoeddin.
  2. Sayidina Ali noeroel Alam
  3. ‘’        Zainal Koebra Maulana Ibrahim
  4. ‘’         Zainal Alam .
  5. ‘’         Abidin.
  6. ‘’         Kamaroedin.
  7. ‘’         Pendjalma Dewa.

Maulana Ibrahim (inilah Maulana Malik Ibrahim Wali ALLAH jang pertama di djawa,djirat atau maqamnja di Gersik, beliau Wafat pada tanggal 12 Rabi’oe’lawal Hidjrah 822 jaitoe 8 April 1419).Maka Baginda inilah jang toeroen datang ke Indonesia ini.Maulana Malik Ibrahim ini berpoeterakan Maulana Ishaq,berpoeterakan Soenan Giri, banjaklah Dari pada tjoetjoenja jang menjadi radja dan orang besar-besar perijai-perijai ditanah  Djawa ;dan akan Maulana Ibrahim itoe berpoeterakan Soenan Machdoem Ampel Denta (beliau ini rasa penoelis ialah  jang dikatakan orang Raden Rahmat jang bergelar Soenan Ampel, sebab ia dianoe-gerahi tanah Ampel (Soerabaya), moeridnja jang ternama sekali ialah Raden Pakoe bergelar soenan Giri [Giri itoe nama tempat dekat Geresik), ialah jang diakoe oleh orang Djawa, sebagai penghoeloe segala Islam ditanah Djawa.

Adapun akan Soenan Machdoem Ampel Denta itoe berpoeterakan  Nji Gede Maloko, adapoen Soeltan ini berpoeterakan penembahan Perwata jang berpoetera penembahan Kediri jang berpoeterakan Pangeran Soerabaja, dan Pangeran ini berpoeterakan pangeran Madi Pendawan, jang bepoeterakan Pangeran Tjoeroeh jang wafat dilaoet.

Akan Pangeran Soerabaja itoe berpoetera Pangeran Siding Laoetan [ wafat di laoetan] meninggal, berpoetra Kiai Hangsoero, maka Kiai ini berpoetera doea orang jang bernama Kiai Gedeng Soero, dan Kiai Gedeng Ilir : maka kedoea baginda inilah jang datang ke Palembang, memerintah (masa itoe Palembang masih dibawah koeasa tanah Djawa, ja’nio setelah Boepati Karang Bidara poetera Soeltan Agoeng Mataram tak memerintah lagi. Maka kedoea bersaudara ini datang dengan diikoet oleh delapan poeloeh orang keloearganja serta beberapa orang hamba ra’jat. Adalah Gedeng Soero Toea itoe memerintah lamanja 22 tahoen. Oleh karena baginda ini tiada berpoetra maka salah seorang poetra adiknja jang bernama Gedeng Soera Moeda diangkatnja anak setelah wafat baginda Gedeng Soera Toea, maka anak angkat tadi menggantikan mendjadi radja dan bergelar Mas Depati, lamanja memerintah 12 tahoen, kemoedian digantikan oleh Gedeng Soera poela lamanja 1 tahoen, maka sekarang digantikan oleh anaknja bergelar Pangeran Ratoe Soeltan Djamaloeddin Mangkoerat I, adapoen baginda ini memerintah lamanja 35 taoen, beginda wafat dianiannja orang dibawah sepohon angsoka (angsoko) karena itoelah setelah wafatnja diseboet orang pangeran Madi Angsoko dan maqamnja ada di Tjandi Angsoko, (20ilir) Baginda diganti oleh adiknja Pangeran Madi Alit( Pengeran Ratoe Soeltan Djamaloeddin Mangkoerat II), setelah wafat digantikan adiknja Pangeran Seding Poera ( Pengeran Ratoe Soeltan Djamaloeddin Mangkoerat III jang  wafatnya di Inderalaja (Tandjoeng Radja). Laloe digantikan kemanakannja jaitoe Poetera Mas Depati jang bernama Pangeran Siding Kenajan dan bergelar poela Pangeran Ratoe Sultan Djamaloeddin Mangkoerat VI.

Adapoen Baginda ini, meskipoen Radja tetapi boekanlah baginda jang sebenar-benarnja memerinta, hanjalah  menjampaikan perintah sadja: jang mengatoer pemerintahan ialah isteri baginda jang bernama R  a t o e S e n o e h o e n  Poeteri dari pada K i a i   T e m e n g g o e n g  M o e n t j a  N e g a r a dengan  N j i        G e d e n g P e m b a j o e n. (Nji Gedeng ini anak dari pada K i a i G e d e n g I l i r )dan adalah Kiai Temengoeng Moentja Negara itoe anak Adipati Soemedang. Sedang Adipati ini anak Kiai Karang Tengah saudara Kiai Pantja Tanda. Tatkala perang Depati Karang Bidara [Palembang] dengan Rio Tjarang jang datang dari Bengkoeloe, maka Kiai Gede Karang Tengah datang membantoe Palembang, setelah kalah  R io  Tjarang  maka ia digelari oleh D i p a t i  K a r a n g  B i d a r a. Temenggoeng Mintik. Kemoedian ia kembali lagi ke Djawa, laloe memakai gelarnja jang lama jaitoe Pangeran Wiro Kesoemo. Anaknja di djadikan Adipati di Soemedang , anaknja dari selir., bernama Pantja Tanda jang terseboot diatas tadi, Pantja Tanda inilah jang membawa anak Depati Soemedang, jaitoe Kiai Temenggoeng Moentja Negara ke Palembang,laloe diambil mantoe oleh Gedeng Soera ja’ni dijadikan dengan Nji Gedeng Pembajoen diatas tadi, Adapoen K,T,M. Negara ini dengan N.G. Pembajoen berpoetera 4 orang jaitoe;

1. Pangeran Siding Pasarian ,2.Ratoe Sinoehoen,3.Raden Djajang Sari dan jang ke 4.Mas Ajoe Antasari, lain dari itoe ada lagi masing-masing anak bawaan; jaitoe Mas poengloe {anak N,G,Penbajoen dengan Soeaminja jang pertama namanja Kimas Tengah bin Kiai Aria Selempar bin Sang Adji Kidoel bin Kiai Gede Siding Laoetan Periajai Demak ; seorang lagi Nji Mas Raoef jaitoe anak K.T M Nagara dibawadari Djawa , demikianlah silasilah K,T,M. Negara itoe.

Sekarang marilah kita kembali kepada baginda jang mendjadi Radja tadi ialah Pangeran Ratoe Soeltan,Djamaloeddin Mangkoerat IV ( Pangeran Siding Kanajan), sebab adalah hal jang perloe ditjeritakan semasa baginda itoe memerintah .Baginda inilah jang mengadakan pijagam , adat-adat pergaoelan boedjang gadis, adat kawin , oendang-oendang Simboer Tjaja (jang lama) dan lain-lain atoeran lagi,itoepoen atas kemaoen perintah dari istrinja jang Ratoe Sinoehoen itoe djoega.

Adalah baginda itoe menaroeh doea orang pahlawan jang gagah berani, seorang bernama BODRO WONGO ‘alim lagi pendekar dan gagah berani, datangnja dari Koedoes (semarang),dan jang seorang lagi,bernama Djaladeri, Akan Djaladeri ini telah beranak doea orang, Pada soeatoe hari ia disoeroeh istrinja beristri seorang lagi, sebab katanja amat maloe sekarang menteri lagi pahlawan beristri hanja seorang . Oleh Djaladeri dibenarkanjalah kehendak istrinja itoe., kebetoelan dapatlah seorang perempoean jang patoet dan tjantik. Maka diadakanlah keramaian nikah itoe dipedalaman P.S, Kenajan tadi ; setelah selesai dari pada bersanding poelanglah Djaladeri sendiri, sebab istrinja ditahan perempoean2 istana, sebab masih soeka melihat keelokan isteri Djalederi, djadi tinggalah istrinja di Istana.

Maka akan isteri Djaladderi jang toea itoe menaroeh ajak bahwa tentoelah orang pedalaman itoe berboet djahat, laloe diadjaknja soeminja itoe mengamoek. Setelah kedoea anaknja tadi diboenoehnja, maka keloerlah doea laki isteri itoe mengamoek diistana, akan Nji Marta isteri toea  Djaladeri itoe tatkala ia mentjaboet roedoesnja akan menjerang seorang perempoean, maka tersajatlah boeah dadanja, matilah ia bersama-sama dengan perempoean jang ditikamnja itoe. Djaladeri teroes mengamoek djoega, sehingga Pangeran Ratoe Soeltan Djamaloeddin  Mangkoerat IV (Pangeran Siding Kenajan) wafatlah. Pangeran jang wafat kena aniaja. Lain daripada itoe banjaklah poela orang pedalaman jang mati terbonoeh oleh amoek Djaladeri itoe dalam itoe orangpoen berlari-larilah memberi tahoe “ B O D R O  W O N G S O “, baiklah nanti seketika akoe lagi bertanak’’ Laloe bertanaklah ia : setelah masak, maka dimakannja keraknja daholoe, baharoelah dimakannja nasinja dengan garam. Kemoedian ia pergi mandi, laloe sembahjang ; soedah itoe bersisirlah ia elok-elok. Sekalian itoe dilakoekannja dengan seakan-akan tiada terdjadi sesoeatoe hal apa-apa  setelah selesai dari pada bersisir itoe, baharoelah ia keloear toeroen menoedjoe kota berdjalan menjongsong angin, katanja soepaja sisiran ramboetnja djangan koesoet ditioep angin. Sesampainja dipintoe kota dilihatnja pintoe terkoentji dari dalam, maka berseroelah ia katanja ;  Hai  D J A L A D A R I , Djikalau soenggoeh engkau pahlawan, melompatlah, pintoe ta’ kan koeboeka’’. Maka melompatlah Bodro Wongso kedalam kota, laloe disamboet oleh Djaladeri dengan kerisnja tetapi tiada loeka, bergorespoen tidak, sehingga telah berates ratoes kali ditikemnja akan Bodro Wongso itoe tiada joega loeka, maka berkatalah Bodro Wongso ; apa khabar, hai sahabatku  Djaladeri , dengan maloenya berkatalah Djaladeri itoe katanja ; telah maloe poela akoe menikam engkau, sekarang balaslah olehmoe “maka kata Bodro Wongso Poela: Hai Djaledri, berwasiatlah engkau soepaja boleh koe sampaikan kepada zoeriat mu atau anak istrimoe “, Sahoet Djaledri Tiadalah bergoena akoe berwasiat, karena cabharnja istrikoe telah wafat, dan anakkoe soedah koebonoeh terlebih daholoe tatkala akoe akan mengamoek ini. Akan family family ta’ada poela bagikoe, sebab itoe ta’perloe akoe berwasiat Djika akoe mati, matilah. Setelah itoe oleh Bodro Wongso ditikamnjalah dada Djaladeri itoe dengan cbandjarnja, kenalah laloe mati disitoe djoega, pintoepoen diboekalah oleh Bodro Wongso  majat Djaladeri dengan P.R.S, Dj. Mangkoerat IV (Pangeran Siding kenajan) itoe dimakam oranglah di Sabokingking 2 ilir, Maka Bodro Wongso itoelah jang menoeroenkan zoeriat Kiagoes dan kemas asli di palimbang. Oleh segala pedalam-pedalam toeroenan Radja-Radja jang memerintah Palembang telah diwasiatkan sedjak waktoe itoe ta’boleh bermoesoeh dengan zoerijat Bodro Wongso itoe ,melainkan hendaklah berkasih-kasihan adanja.menoeroet setangah tjeritera,jang dimakamkan di Lemabang itoe hanja Djaladeri sendiri dan Pangeran Siding Kanajan dimakamkan orang di Sabakingking 2 ilir demikian poela isterinja, Ratoe Senoehoen, Keramat Sabokingking Oleh karena baginda P.R.S. Dj, Mangkoerat IV itoe tiada berpoetra , maka digantikan oleh anak Temenggoeng Moentja Negara jang bernama Pangeran Siding Pesarian bergelar Pangeran Ratoe Sultan Djamaloeddin Mangkoerat V, Nama Siding Pesarian itoe artinja wafat ditempat tidoer, karena memang ia wafat ditempat tidoer (sedang tidoer).

Ganti Baginda itoe ialah poetranja jang bernama Pangeran Siding Radjak bergelar Pangeran Ratu Soeltan Djamaloeddin, Mangkoerat VI, jang djoega diseboet Pangeran’Abdoe ‘rrahman, Adapoen baginda ini amat wara’.Dalam massanja memerintah datanglah kapal orang Eropah berhadjat hendak memboeat contract monopolie timah lada dan kopi ; akan tetapi baginda itoe ta’maoe bertemoe dan terjadilah perang Kuto Gawang 1659. Dalam itoe ia pergi ke Saka Tiga (Tanjung Radja) disanalah makamnja kemoedian , Tatkala akan berangkat itoe baginda mewakilkan keradjaanja kepada adiknja jang biasa diseoboetnja Mas Endi , jaitoe Pangeran Ario Kesoemo ‘Abdu’rrahim, Apabila tetaplah ia di Saka Tiga,maka dikirimnja oetoesan kepada adiknja itoe mengatakan jang Mas Endi tetaplah mendjadi gantinja dan bole memakai namanja ja’ni Soeltan ‘Abdoerrahman Chalifatoel moe’minin Sayyidul Imam jang setelah wafatnja biasa diseboet orang Soenan Tjandi Walang, Moelailah dari pada baginda ini nama Soeltan di Palembang.

Soeltan Moehammad Mansyoer itoe dinobatkan mendjadi Soeltan dan Baginda sendiri bergelar Soenan, hanja memata-matai hoekoem djangan melanggar hoekoem sjara’ ketika itoe genap empat poeloeh tahoen baginda Soenan Abdoerrachman Chalifatoel Moeminin Sayidu Imam itoe memerintah.

Kemoedian kira-kira lima tahoen semendjak baginda mendjadi Soenan itoe maka wafatlah baginda, makamnja di Tandi Walang. Maka amanlah baginda Soeltan Muhammad Mancoer memerintah negeri Palembang sehingga lamanja doea belas tahoean.

Kata jang empoenja tjeritera, adalah kira-kira lima tahoen sesoedah wafat Soenan Tjandi Walang maka baginda Soeltan Moehammad Mancoer mengangkat poetranja jang toea jaitoe Pengeran Poerbaja mendjadi Pangeran Ratoe artinja anak ganti radja. Kemoedian pada malam harinja jaitoe besoknja akan menobatkan Pangeran Ratoe mendjadi Soeltan, diadakanlah keramaian jang dengan amat ramainja. Maka kira-kira poekoel empat fadjar, Pengeran Ratoe itoe hendak minoem , diketahoeinjalah bahwa air itoe telah diisi orang dengan ratjoen laloe berkata : ,,Djika ditaqdirkan Allah besok akoe mendjadi Soeltan, tawarlah air ini. Tetapi djika memang taqdir akoe moesti mati apa boleh boeat.

“Laloe air itoe dimonoemnja : maka wafatlah ia terdodoek disitoe djoega. Sesoedahnja wafat Pangeran itoe, maka baginda Soeltan  Moehammad Mancoer berwasiat, katnja : ,,Djikalau sampai adjalkoe, jang koerelakan akan gantikoe ialah adindakoe Sri Troeno dalam pada itoe Djaja Wikrama ini pantas.” Doea tahoean  kemudian dari pada itoe wafatlah Soenan Moehammad Mancoer itoe, laloe dimakamkan di Keboen Gede.

Menoeroet wasiat baginda itoe maka Sri Troenopoen dinobatkan menggantikan keradjaan kakanda baginda itoe ; adapoen akan poetera Soeltan jang marhoem itoe, akan datang melawat dan menghormati mamandanja mendjagi radja itoe, teteapi tidak diizinkan datang sebab difitnahkan akan membaeat roesoeh. Doea hari sesoedah Sri Troena mendjadi Soeltan dan namanja Soeltan Kamaroe’ddin Sri Troena, maka ia meminta segala chazanah harta benda baginda jang wafat itoe, tetapi, tetapi dijawab Pengeran Djaja Wikarama dan Pangeran Adipati Mangkoeboemi  : ,, Akan chazanah negeri, boleh di ambil, tetapi chazanah waris dari ajahnja marhoem tiada kami beri, kamilah jang berhaq”. Maka oleh karena moerka baginda Soeltan kamaroe’ddin Sri Troena kedoea saudara  itoe meninggalkan negeri Palembang dalam tempoh toedjoeh hari. Maka dalam toedjoeh hari itoe kedoea bersaudara itoepoen bersiaplah dan ziarah segala ke maqam ajahnja serta pamitan (minta diri) kepada toea-toea kemoedian toeroenlah keperahoenja laloe bertolaklah Pangeran doea bersaudara itoe dengan perahoe itoe menoedjoe koeala hingga ke Selat Bangka, kesoedahanja sampailah ke doenja itoe ke Mintok di poelau Bangka.

Difikir-fikir, ta’ bergoena tinggal di Bangka akhirnja dengan menoempang sambil pengail sampailah di daerah Kelantan. Fikir Djaja: Baiklah akoe ke tempat jang lebih atas. Laloe ia berlajar poela, dengan perahoe ke Djohor masa itoe Djohor besar koeasanja, sampai ke Minangkabau. Awal moela Pangeran Daja di Djohor, adalah kerdjanja sehari-hari seperti orang kebanjakan. Masoek orang masoek  dia, keloear orang keloear dia, adapoen Soeltan Djohor, seorang alim lagi kasjaf. Hal keadaan Pangeran Djaja itoe diperhatikannja. Dilihatnja kelakoeannja amat baik. Laloe baginda bertanja darimana datangnja. Pangera Djaja mengatakan dia dari Palembang, tetapi tiada dipandangkannja kalamnja. Dari sehari kesehari kawannja bertambah banjak, dan Soeltan bertambah kasih akan dia, hingga tiada chali lagi, bermalam-malam beriwajat bermasalah, kadang-kadang hingga sampai waktoe soeboeh, laloe sembahjang

Hatta loepalah radja akan oeroesan negeri, hingga menteri-menteri dan orang besar-besar, menaroeh chawatir negeri akan binasa karena radja alpa demikian itoe. Bermoefakatlah mereka akan menghoembalangkan Pangeran Djaja dari Djohor. Laloe menghadaplah seorang menteri, djadi wakil orang banjak. Sembahnja :,, Daulat Toeankoe, roesaklah negeri kalau berkepandjangan hal toeankoe, roesaklah negeri kalau berkepandjangan hal toeankoe begini. Kalau telah tjoekoep Toeankoe akan orang seorang itoe biarlah kami hindar.”

Djawab Soeltan : “Soeka hatimoelah,”

Tetapi Pangeran Djaja tiada dioesir baginda

Kemoedian menteri-menteri itoe berdatang sembah dengan bagai bagai alasan, jang maksoednja begitoe djoega. Itoepoen tiada berhasil. Pada soeatoe hari Soeltan bertanja apa jang sebenar benar hadjat. Djaja maka berhambakan diri kepada baginda. Djoeja mentjaritakan bahwa ia anak Radja di Palemban, jang sepatoetnja akan ganti ,, Ajahnja, tetapi ia dioesir mamandanja. Hadjatnya ia hendak mengambil Palembang dengan kegagahan atau dengan ra’jat. Sekarang baginja kegagahan tidak, ra’iat poen tidak. Melainkan kalau-kalau soedi Baginda member bantoean ia akan mereboeat Palembang.

Soeltan Djohor orang arif, sahoetnja ,, Akoe ta’ dapat tjampoer dalam hal orang bersaudara berkaoem keloearga. Melainkan kalau engkau maoe djadi Radja pilihlah salah satoe dari pada djahjahankoe, djadilah  engkau Radja. Dan engkau koeberi merdeka berdiri sendiri, ta’ goena membajar oepeti ke Djohor ini.

Menteri menteri dan orang orang besar memohon soepaja mengeloerkan Pangeran Djaja itoe dari Djohor sekali lagi. Soeltan mengaboelkan permohonana itoe. Titah baginda :

,, Hendaklah perkara ini toean toean perlakoekan dengan djalan jang amat haloes. Pada pikirankoe baiklah kita soeroeh dia berdagang.”

Djawab mereka itoe : ,, Mana titah patik djoendjoeng”

Pada soeatoe malam baginda memanggil Pangeran Djaja hamper. Laloe baginda bersabda dengan empat mata : ,, Hai Djaja, djangan engkau ta’ tahoe, bahwa negeri Djohor ini sekarang ditimpa kesoesahan, chez nah soedah koesoeng. Dalam itoe engkau, kalau engkau benar setia kepadakoe, hendak koesoeroehkan berdagang”

Djawab baginda : ,, Esok hari.”

,,Baiklah toeankoe” sahoet Pangeran Djaja.

Laloe disediakan 7 perahoe dengan perdagangan, serta dengan anak pendajoengaja. Djadi 8 dengan perahoe Djaja sendiri. Dalam itoe baginda soeltan Djohor bersabda kepada menteri-menteri : ,, Nanti ditengah djalan, engkau iringkan akan perahoe-perahoe mereka itoe. Kalau dia berbalik menembak djangan di balas”.

Setelah moestaid laloe belajarlah Pangeran Djaja meninggalkan Djohor.

Ditengah pelajaran Pangeran Djaja menoleh kebelakang, dilihatnya orang menjosoel dengan perahoe dan alat sendjata. Terbit sangkanja :,, Wah, kalau begini akoe ini dioesir orang.”

Laloe ia memerintah orangnja berpoetar haloean dan menembak. Sampai 3 kali menembak, 3 perahoe moesoeh tenggelam, tetapi orang itoe ta’ membalas. Laloe ia berkata dalam hatinja :,, Kalau boekan orang mengoesirkoe.” Laloe dipoetar haloean, langsung meneroeskan pelajarannja.

Beberapa lamanja, sampailah di pangkalan negeri Kelantan.

Didarat ada seboeah taman boenga-boengaan jang indah dengan koklamnja. Dalam Djaja memandang-mandang kesana, terpandanglah kepada seorang perempoean jang mahatjantik. Amatlah heran Pangeran Djaja melihat tjahja memantjar dari oeboen-oeboen perempoean itoe Tjinata kasihnja ta’ dapat dikendalikanja, laloe mendaratlah ia.

Perempoean Djaja tiba dipintoe gerbang perkarangan datang inang perempoean itoe (gadis itoe) mengantarkan kahwa. Kata Pangeran Djaja :,, Dari pada jang poenja taman.” Itoe.

Bila pangeran Djaja tiba dipintoe gerbang pekarangan datang inang perempoean itoe (gadis itoe) mengantarkan kahwa. Kata Pangeran Djaja : ,,Dari pada siapa datangnja?” Djawab inang itoe dari pada jang poenja taman.”

,,Siapa jang poenja taman ini ?” Sahoet inang itoe poela :,, Adakah toeanhamba melihat perempoean beridir di tengah taman itoe tadi ?”

,,Ada” sahoet Pangeran Djaja ,,Itoelah jang menjoeroeh hamba mengantar air kawah ini.”

,,Kalau begitoe, bawalah akoe keroemahnja dan engkau katakanlah bahwa akoe sangat berkenan akan dia.

,,Baiklah” djawab inang itoe. Laloe berdjalanlah ia diikoetkan oleh Pangeran Djaja. Tatkala sampai kesitoe, dan demi terlihat olehnja perempoean itoe, tetaplah hatinja, bahwa itoe jang dilihatnya ditengah taman itoe. Tiadalah ia maoe toeroen lagi dari roemah gadis itoe. Gadis itoe tentoelah anak orang besar Kelantan sebab hal itu ternjata dari pada perabot roemah dan roemahpekarang serta lamannja jang permai itoe.

Gadis itoe berkata : ,,Apalah gerangan hadjat toean hamba datang kemari ini ?”

Sahoet gadis itoe : ,,Hal ini, meskipoen hamba berkenan, tetapi ada bagi hamba saudara laki-laki , Ishak namnja tinggal diseberang sana, ialah wali hamba Bernantilah toen hamba sementara hamba menjoeroeh panggil kakanda itoe.”

Setelah Ishak  datang ditanjakanlah segala hal ichwal memanggil dia ito. Bila soedah diketahoeinja, berkenanlah ia, tetapi katanja kepada Pangeran Djaja :

,,Djanganlah toean hamba goesar, hamba mendjalankan adat. Berlajar djangan meningkatkan poelou. Adapoen Kelantan ini dibawah koeasa Djohor. Berhentilah toean hamba, sementara kita mendapat chabar dari Djohor. Ishak mengirim oetoesan ke Djohor menjatakan hadjat Pangera Djaja itoe.

Soerat dari Soeltan Djohor demikian boeanjinja :

,, Djangankan permintaan jang demikian, kalau negeri Kelantan skalipoendikehendaki Pangeran Djaja, berikanlah.

Amatlah senang hati Pangeran Djaja serta Ishak mendengar soerat itu. Soeltan Djohor hakikatnja senang poela sebab lepaslah ia dari pada mara Pangeran Djaja itoe.

Walhasil perminangan Pangeran Djaja diterima. Diminta emas kawin 40 tetampan (nampan) berisi beberapa mata benda emas kawin setjara orang sana. Bagi jang demikian tiadalah soekar bagi Pangeran Djaja, karena memeang ia ada membawa 7 perahoe sarat dengan mata benda perdagangan dari Djohor. Itoelah dipergoenakannja. Permintaan itoe diterima oleh Pangeran Djaja tetapi orang jang akan membawa  tetampan 40 itoe ta’ada baginja. Akan itoe lahaklah jang mengadakan. Malam itoe Chamis malam Djoem at pekerdjaan kawin akan dilangsoekan. Hakim dipanggillah akan menikahkan mempelai itoe. Karena tadi di pulaoe tjangang menjatakan gadis adik Ishak itoe akan kawin dengan orang dari Palembang berkeroemoenlah orang banjak datang kesana, hingga penoeh sesak.

Lepas waktoe isja hakim membatja  chotbah nikah chotbah habis dibatja, tetapi beloem idjab kaboel, kedengaran orang riboet berkeroeboeng di pangkalan orang dari alam keloear berlari hendak melihat apakah hoeroe hara itoe. Kiranja orang habis terbawa melihat rakit apoeng berlajar dengan seorang laki laki di atasnja [ apoeng = batang nipah ].

Rakit itoe tersangkoet di pangkalan. Lahak datang melihat, kiranja laki-laki ialah Ibrahim ajayahnja sendiri. Sekarang Ibrahim yang lebih berhak mendjadi wali nikah anaknja, gadis itoe.

Waktoe hakim memegang tangan Pangeran Djaja dan menjeboetkan akad nikah, baroelah kita tahoe nama gadis itoe ja’ni Fatimatoe’zzahra.

Beberapa lama di Kelantan. Pangeran Djaja poen bermohon kepada mertoeanja hendak ke Palembang, serta isterinja hendak dibawanja. Permohonan itoe dikaboelkan, laloe dilengkapkanlah seboeah lantjang serta 40 pendjadjab (perahoe pengiring). Beberapa lama berlajar sampai ke Poelau Nangka  (dekat P, Bangka), laloe perahoe pendjadjab jang 40 itoe dibanting  (digalang) dipantai, akan diperbaiki mana jang roesak ketjoeali lantjang Pangeran Djaja. Didirikan oranglah Chaimah Chaimah, tempat permaleman.

Setelah beberapa lama disana, dibongkarlah saoeh laloe berlajar kepoelan Bangka tentangan Muntok sekarang (Masa itoe beloem bernama Muntok) menoeroet tjerita, sebeloem Pangeran Djaja ke Kelantan, lamalah ia diam disana (Muntok), dan iboenja serta beberapa keloearganja ada jang mati, dipendam disitoe. Itoelah maka ia singgah disitoe. Keranda-keranda iboe serta keloerganja jang terpendam itoepoen dibongkarnja serta dimoeat keperahoe, hendak dibawa poelang ke Palembang. Setelah moesta-id laloe belajarlah.

Dewasa itoe orang Palembang telah mendengar (entah darimana ?), bahwa Pangeran Djaja Wikrama akan datang menjerang Palembang. Karena itoe merekapoen bersiaplah : Dipoelau Pajang (Soengsang) didjaga dengan 40 armada. Di Oepang demikian poela, Di Peladjoe diboeat benteng (koeboe?)

Tatkala angkatan Pangeran Djaja sampai di Soengsang dipoekoellah oleh angkatan jang bertahan disana. Tetapi dilawan djoega sambil mara sedapat dapatnja, hingga sampai ke Djeroendjoeng. Karena keras amoek orang jang menanti, hampirlah binasa Pangeran Djaja Wikrama sebab itoe berpalinglah soeroe. Keranda-keranda jang diperahoe tadi di toeroekoenlah dengan beberapa soesah pajah di Keman Besar [dihandapan, sebelah hilir sedikit dari Soengai Gerong sekarang

Setelah selesai, belajarlah denga ra’iat dan kapal mana jang baik. Ke Bangka, beberapa lamanja terpikirlah olehnja hendak ke Makassar (Mengkassar), angan-angan moga-moga beroleh bantoean, apa lagi chabarnja disana ada poela kaoem kelorganja. Tetapi terkanja ta’dapat. Tiba disana radja Boegis ta’bersenang hati, banjaklah ajak wasangkanja akan Pangeran Djaja, tetapi hendak menganiaja njata-njata ta’moe poela mereka. Karena itoe radja mengadakan gelanggang. Dipilihnja panglima jang gagah-gagah diadoe dengan Pangeran Djaja.

Dengan takdir Allah menanglah ia dalam pertandingan itoe, hingga ia disegani orang. Tiadalah lama Pangeran Djaja di Makassar setelah ia kawin disitoe, berlajarlah ia berlarut-larut  berboelan-boelan dilaoetan, hingga sampailah di Siam.

Itoepoen angan-anganja hendak minta bantoean disana ia diterima orang dengan perdjandjian, bahwa kalau ia ditjeloemkan dalam kawah minjak jang sedang mendidih, ia ta’hangoes, maksoepnja itoe akan di kaboelkan.

Kalakian disediakanlah kawah besar toemang, laloe dimasaklah minjak njior hingga mendidih. Setelah itoe diperiksa Pangeran Djaja bahwa minjak itoe benar-benar minjak manis laloe ditawarnja diam diam, sedang minjak itoe memboeal boeal, Ditjelempoengkan oranglah ia kedalamnja.

Setelah diperiksa Pangeran Djaja bahwa minjak itoe benar benar minjak manis ,laloe ditawarnja diam-diam, Sedang minjak itoe memboeal-boeal ,ditjelempoengkan oranglah ia ke dalamnja,

            Alhamdoeli’llah tiadalah hangoes ,Radja Siam, menepatilah akan djandajinja,Djadinja Pangeran Djaja berangkat menoedjoe Palembang ,tetapi lebih dahoeloe singgah di poelau Nangka,perahoe-perahoe jang ditinggalkan dahoeloe diperbaikilah semoeanja;

             Terseboet dalam setengah riwajat, tatkala tengah malam,tengah Pangeran Djaja beradoe njenjak Fatimah(isterinja)terdjaga,laloe terpandanglah ia akan soeatoe tjahaja berkilau-kilauan didahi soeaminja

             Pikir Fatimah;,,Besar djoega dau’atnja soeamikoe ini,’’Laloe didjagakannja itoe,Pangeran Djaja terperandjat,laloe terdjaga,dilihatnja istrinja doedoek pada sisinja,Iapoen bertanja; ,,Mengapa adinda mendjagakan kakenda ini?’’

             Sahoet isterinja;,,Djanganlah kiranja kakanda moerka akan adinda,Karena ada jang moesjkil hendak adinda katakana,’’

          ,,Apakah jang hendak adinda katakan? Katakanlah!’’

          ‘’Apalah goenanja kita menjiksa diri dipoelau ini, Roepanja kakanda ada menaroeh sesoeatoe maksoed jang besar,Tjobalah kakanda katakana,apalah diseboenjikan maksoed itoe,’’

             Pangeran Djaja memaparkan segala hasrat-hasrat jang terkandoeng dalam hatinja,

             Djawab Fatimah ;,,Kalau toeanhamba betoe-betoel hendak mendjadi radja di Palembang ,marilah kita berangkat sekarang , inilah paksa jang amat baik,’’

             Setelah ditimbang-timbangnja perkataan isterinja itoe,moefakatlah ia laloe bersiap dan berlajarlah ke Palembang, Moelai dari soengsang ia diserang orang seperti dahoeloe, tetapi,ta’dipedoelikannja,

             Tiba di Djeroengdjoeng,ia teringat akan peti wasiat dari iboenja jang dibawanja dalam perahoe itoe,

             Menoeroet pesan iboenja, kalau tiada dalam hal jang penting ,djangan diboeka peti itoe,

             Dengan segera peti itoe diboekanja,Didalamnja ta’ada lain ,hanja selembar kain tjindai pandjang 12 (?)

            Dipikir-pikir oleh pangeran Djaja;,,Apa goenanja tjindai ini?’’

            Kemoedian katanja sendiri;,,Ah ,tjoba akoe boeat bendera terpasang,toeroenlah hoedjan petir kilat saboeng-menjaboeng,tjoeatja djadi kelam kaboet, hingga ra’iat Palembang berperang sama sendirinja, Dalam itoe pangeran Djaja berlajar mara,Setelah hari terang tjoeatjanja, dilihat orang dia telah melampaui perkoeboean dan angkatan Palembang, laloe mereka itoe menjoesoel sadja sebagai orang kalah, Sekali ini ta’ oeroeng sampailah tjita- tjita Pangeran Djaja Wikrama jang beroleh daulat beserta isterinja itoe,

          Bermoela ia singgah ziarah dimakam iboenja di Keman Besar, laloe keranda-keranda itoe dimoeat poela keperahoe,sebeloem teroes ke Palembang,pangeran Djaja dengan segala ra’iatnja beristirahat dahoeloe di poelau Kembaro,

          Waktoe orang-orang jang dititahkan oleh Soeltan Kamaroe’ddin Sri Troena menghambat Pangeran Djaja Wikrama soepaja djangan masoek Palembang itoe,telah mengiringkan pangeran Djaja Wikrama, wasangka dan tjemaslah hati Soeltan Sri Troena serta segala orang di Palembang,sangkanja ra’iat telah belok (poetar). Tetapi jang sebenarnja boekanlah demikian sebabnja maka ra’iat mengiring pangeran Djaja Wikrama itoe, melainkan karena kasih mesra mereka telah dipalingkan Toehan kepada pangeran Djaja itoe,

        Soeltan poen memboeat permoefakatan dengan menteri-menteri,pangeran-pangeran,serta perijai-prijai dalam  Titah Soeltan; ,,Betapalah bitjara kita akan hal  pangeran Djaja ra’iat jang belok ? Roesaklah kita sekali ini,’’

        Waktu itoe, sampailah menteri-menteri baginda jang telah mengiringkan pangeran Djaja itoe kepenghadapan madjelis permoefakatan itoe,mengatakan bahwa pangeran Djaja mendatangkan permohonan kebawah baginda Soeltan,

        Titah Soeltan ;,,Apa katanja ?’’Sahoet seorang menteri jang tertoea;,, Patik semoea ini dititahkan pangeran Djaja kembali ke Palembang ini dengan katanja; Poelanglah toean-toean ke Palembang,katakana kepada mangtji’(Soeltan Sri Troena),akoe mintak izin datang ke Palembang, akan menanam keranda boenda serta keranda keloearga jang lainnja,jang koebawa dari Muntok,’’Adapoen nama moentok itoe Pangeran Djaja memberi nama .waktoe ia poelang.diseboetnja negeri itoe,,Mantoek’’ artinja balik (poelang),

         Kata riwajat ketoea oetoesan itoe Pangeran Boentjit,saudaranja (misan)Pangeran Djaja Wikrama itoe ia kemoedian bergelar pangeran Dipo Kesoemo, lain dari pada itoe dipersembahkannja poela,bahwa mereka mengikoet pangeran Djaja Wikramo itoe,boekan belok atau engkar, Laloe ditjeritakan menteri-menteri itoelah halnja berperang dalam topan dan riboet dan hoedjan petir kilat saboeng-menjaboeng itoe hingga achirnja,

        Termenoenglah baginda Soeltan Sri Troeno mendengar sembah mereka itoe,kemoedian setelah dimoefakatkan dengan orang besar-besar jang hadir tadi, di poetoeskanlah;Bahwa permohonan pangeran Djaja itoe diperkenankan,serta ia dipersilahkan datang mengahadap,

        Oetoesan-oetoesan itoepoen kembalilah membawa chabar baik itoe kepada pangeran Djaja Wikrama,

        Meskipoen permohonannja dikaboelkan dan ia dipersilahkan datang ke Palembang,tetapi pangeran Djaja beloemlah datang pada waktoe itoe , entah lagi menoenggoe sa’at jang baik, Wa’llhoe a’lam,

         Karena Pangeran Djaja Wikrama tiada djoega datang,timboel kembali wasangka dalam hati Soeltan,Memang hal bersalah,biar ketjil sekalipoen kerap menimboelkan wasangka dan tjemas,

        Diadakan poela permoefakatan sekali lagi,Ketoea madjelis itoe pangeran soeria kerama(Pangeran sebakti), ialah jang tertoea poela disitoe,

        Kata beliau;,,Pada pikiran patik,baik kita kirim oetoesan,menjamboet pangeran Djaja itoe, serta kita njatakan kalau dia bermaksoed mendjadi radja,tiada berhalangan,karena memanglah ia waris radja,’’

        Boeah pikiran itoe aganja boeah pikiran Soeltan Sri Troeno djoega,sebab kalau tiada pikiran,masakan Soeltan menerima baik sadja (accoord),begitoe poela oleh madjelis jang lain,

        Setelah boelat moefakat ,Soeltan bertitah sambil melayangkan matanja berkeliling ;,,Siapakah diantara toean-toean jang sanggoep djadi oetoesan kepada Pangeran Djaja?’’Tiada seorang djoea poean, baik pangeran-pangeran baik menteri-menteri jang menjahoet hingga tiga kali Soeltan bertitah demikian itoe poen hening sadja madjelis itoe,

        Sementara mereka berdatang sembah itoe Pangeran Djaja memandang mereka itoe masing-masing,dikenalnja bahwa menteri jang toea-toea itoe,menteri pada zaman neneknja Soenan Tjandi Balang, jang pada waktoe ia pergi berkelana itoe mereka itoe masih moeda djoega,

          Pangeran Djaja berpaling kepada jang lain, serta katanja;,,Mengapa maka toean-toean tiada menjahoeti titah Soeltan seperti itoe, Betapa djadinja kalau ta’seorang djoega jang menjahoet ?’’

         ,,Toeankoe, kami sekalian tiada berani’’sahoet mereka pangeran Djaja berdiam diri,begitoe poela jang lain,

          Tetapi pangeran Djaja menjatakan bahwa waktoe itoe ia beloem masoek ke Palembang,tetapi hatinja telah senang mendengar permohoananja telah di kaboelkan oleh Soeltan,

         Katanja ;,,Pergilah toean-toean poelang, katakan kepada Soeltan,bila-bila akoe akan ke Palembang,nanti akoe beri chabar,

         Ketika oetoesan Soeltan itoe balik ke Palembang, pangeran Djaja mengirim oetoesan ke Muntok, mendjempoet kakanda beliau Pangeran Mangkoeboemi jang bersama-sama berkelana dengan dia tempo hari, jang pada waktoe jang achir itoe tinggal di Muntok,

         Sementara itoe, oetoesan dari Palembang beroelang-oelang djoega datang matoer ke poelau Kembaro, Tetapi djawab pangeran Djaja tetap seperti dahoeloe dahoeloe, sebab itoe Soeltan Kamaroe’ddin Sri troeno, berhadjat hendak pergi sendiri mendjempoet kemenakanda itoe, Hadjat Baginda itoe ditahan oleh sentono-sentono dalam (orang besar-besar dalam keraton),Katanja biarlah mereka sendiri bekerdja,

 Pangeran Mangkoeboemi kakanda Pangeran Djaja datanglah dari Muntok ke poelau Kembaro,

        Waktu itoe pangeran Djaja mengoetoes ke Palembang mengabarkan kepada Soeltan bahwa pangeran Mangkoeboemi telah datang dari Muntok, akan ke Palembang bersama-sama dangan dia, tetapi seboeloem itoe lebih doeloe akan melangsoengkan menanam keranda Iboenja serta jang lain-lain di Lemah abang (1 ilir )kata setengah di Lembah Loehoer(dekat Lemah abang itoe penjarang),

       Sagala jang dikatakan oetoesan itoe diterima oleh Soeltan dengan bergirang hati,

       Pada hari jang ditentoekan,Soeltan sendiri mengamat-amat orang jang berkerdja menggali loebang-loebang tempat menanamkan keranada-keranda itoe,

        Waktoe lepas soeboeh, bertolak perahoe-perahoe keraton beberapa poeloeh dengan tiga perangkat oepatjara kehormatan, Satoe perangkat oentoek menghormat keranda Iboe Pangeran Djaja, sebab djalan rembajan oleh Soeltan, Dan doea perangkat oentoek kehormatan menjambut pangeran Djaja dan pangeran Mangkoeboemi, Langsoeng- langsoeng kepoelau Kembaro,

        Beratoes orang jang mengiringkan Soeltan menjamboet kemenakanda baginda kedoenja itoe,oepatjara kebesaran pendjempoet itoe, seperti; pajoeng oeboer-oeboer soetera koening, lampit oeloeng, toembak benderang,pengawinan,tepak besari dari pada mas inten, Diantara pengiring itoe ada jang memegang pedang terhoenoes,masing-masinglah dengan djawatan menoerut djeradjatnja,

       Setelah selesailah dari pada menanamkan keranda-keranda itoe, kedoea pangeran adik beradik itoe diarak dengan oepatjara kekeraton Palembang (didekat soengai Tengkoeroek),Tiga hari kemoedian dari pada itoe dititahkan oleh Soeltan Sri Troeno mengoempoelkan segala isi negeri dari segala deradjat dan bangsa,Belanda ; Tionghoa,Arab,Kelingpoen datang dengan pakaian kehormatan (hitam)kekeraton, menghormati keangakatan kedoea pangeran itoe, Waktoe itoe Belanda telah mendirikan factory di soengai Aoer(10 oeloe Kelenteng Tionghoa sekarang masoek bagian tempat factorij itoe djoega, Dalam factory itoe ada 300 serdadoe,tetapi dirahasiakan oleh kepala factory itoe (dirahsiakan Belanda),dengan diberi berpakaian preman sadja,sebab Soeltan Sri Troeno ta’ mengizinkan membawa serdadoe ke Palembang, karena hal itoe mendatangkan bahaja bagai pemerintahan baginda,

       Pelantikan itoe diandjoerkan oleh soeara penembahan Soeria Dilaga,Ialah berpidato dihadapan chalajak jang hadir itoe, seizing saudaranja Soeltan Kamaroe’ddin Sri Troeno, Baginda pidatonja;

       ,,Assalamoe’alaikoem siding madjelis ! Hamba sebagai wakil Sri Soeltan,memberi tahoekan kepada chalajak jang terhormat. Bahwa rada sa’at ini, moedah-moedahan sa’at jang diberkati Allah ta’ala,dilantik pangeran Adipati  Mangkoeboemi (Moehammad’Ali)menjadi Soeltan bergelar Soeltan Anom, mengoeasai atas tanah dari Soengai Randang kehilir, dan beristana di Kampoeng Kedipan(13 ilir),

        Pangeran Djaja Wikarama,dilantik djadi pangeran Ratu,dengan beralih nama Mahmoed Badaroe’ddin, berkoeasa moelai dari Soengai Tengkoeroek kehoeloe, beristanah dikeraton ‘’(ditempat roemah resident sekarang, Pen.!)

        Setelah kedoea saudara itoe menerima anoegrah dari keangkatan jang moelia itoe, kedoeanjapoen bermoesiawarat poela serta pangeran-pangeran jang lain,tetapi diloear setahoe Soeltan Sri Troeno akan mengangkat, Soeltan itoe djadi Soeltan Agung,

        Boelat moefakat , laloe dilahirkan oleh mereka itoe sebagai tjita-tjita itoe kedada Soeltan Kamaroe’ddin Sri Troeno, permintaan itoe diterima Soeltan,dengan mengoetjap sjoekoer kehadirat ALLAH Soebhannahoe Wata’ala

        Semendjak waktoe itoe Soeltan Kamaroe’ddi Sri Troeno bergelar Soeltan Agoeng,dan berkedoedoekan di Beringin djanggoet (17 ilir sekarang),diantara soengai Rendang dan soengai Tengkoeroek soenggoeh baik peratoeran itoe, ;Soeltan Agoeng (sebagai adviseur),ditengah-tengah, dan dikiri kanan pangeran Ratoe dan Soeltan Agoeng, Mana-mana jang chilaf orang berdoea itoe dalam hal pemerintahan negeri,Soeltan Agoenglah jang memberi petoea dan nasehat,

       Setelah Soeltan Kamaroe’ddin Sri Teruno, menerima keangkatan baginda itoe, baginda bersabda;,,Barang siapa diantara kemenakanda  Soeltan Anom atau Pangeran Ratoe, jang kawin dengan Ratoe Rangdan djanda pangeran Ario Tjengek, beranak tiga,Kota Tjerangtjangan,antara 17 dan 20 ilir sekarang, di kota Tjerangtjangan dialah akan tetap djadi Soeltan, Sabda baginda itoe ta’ berdjawab, Setelah itoe masing-masing poelanglah ketempatnja, Tidak berapa lama kemoedian,Soeltan Agoeng mengikat tali persahabatan dengan Belanda jang di factory itoe entah bagaimana asalnja wa’llahoe’lam , Dalam setahoen dari pada waktoe keangkatan Soeltan Anom dan pangeran Ratoe itoe,negeri adalah dalam aman dan damai sadja, Tetapi selamanja apa sadja ta’ada jang kekal didoenia ini,pada soeatoe malam,waktoe lepas magrib, palik( saudara soesoean) dari pangeran Ratoe bernama’Abdoel Latif, dengan kehendak ALLAH teringat akan kata Soeltan Agoeng dalam madjelis pelantikan tempo hari; katanja kepada pangeran Ratoe,,Goesti!Tidak inginkah goesti djadi Soeltan?,Tidak ingatkah goesti akan sabda Soeltan Agoeng?,Barang siapa diantara goesti berdoea kawin dengan Ratoe Rangdan pangeran di kota Tjerangtjangan,dialah akan tetap mendjadi soeltan,’’Sahoet pangeran Ratoe Mahmoed Badaroe’ddin;,,Benar,sekarang baroe akoe teringat,Djadi pamoeslihat kita?’’Djawab  ‘Abdoel latif ;inilah paksa jang baik,Bersiaplah alat dan sendjata,goesti, hamba mengikut bersama-sama,’’Setelah siap,lepasi’saja,berangkatlah pangeran Ratoe ke kota Tjerangtjangan diiringkan oleh ‘Abdoel latif dan beberapa sentono dalam dengan alat sendjata,

        Kepala pendjagaan istana Kota Tjerantjangan, Kiai Ngabei Raksa Oepaja bin Kiai Temoenggoeng Joeda Pati ta’berani mentjegah kehendak pangeran Ratoe ,kedatangan pangeran Ratoe itoe disamboet oleh kiai Ngabei Oepaja dengan hormat ta’zim,Pangeran Ratoe,menjatakan bahwa kedatanganja itoe,akan mengambil Ratoe Rangdan pangeran djadi permaisoeri baginda,Rida atau tidaknja dikehendakinja djoega, Kiai Ngabei mendjawab, hal itoe hendak diberi tahoekan dahoeloe kepada soeltan Agoeng,laloe anaknja, Rangga Wira Santika (jang toea),disoeroehkan Ngabei itoe memberi tahoekan hal itoe kepada Soeltan Agoeng itoe sedang hadir dipenghadapan loear, Rangga Wira poen datang kehadapan baginda laloe menjembahkan kerisnja,katanja;Patik sekalian telah bersalah, hendak poen toeankoe boenoeh-boenoehlah’’sahoet soeltan Agoeng ;katakan doeloe ,kesalahan apa gerangan itoe,?,Rangga Santika mendjawab, mengatakan bahwa pangeran Ratoe Mahmoed Badaroe’ddin,soedah ada dibalai istana kota tjerantjangan,hendakan Ratoe Rangdan pangeran , hendak ditegah masoek ta’dapat hendak di lawan boekan lawanan,karena Pangeran Ratoe orang gagah,Melainkan mohon bitjara, bagaimana mesti diperlakoekan,Titah Soeltan Agoeng ;,, Allhamdoelillah, itoe boekan kesalahan engkau sekalian namanja,sekarang akoe hendak ke sana ,panggilah penghoeloe agama soepaja malam ini djoega diakad nikahkan, ’’Demi sentono-sentono dalam mendengar kata soeltan Agoeng itoe,mereka poen bermohon soepaja djangan soeltan pergi pada waktoe itoe, biarlah mereka sadja mengoeroeskan perkara itoe,

         Titah Soeltan Agoeng;,,kalau sekalian sentono telah semoefakat demikian,baiklah akoe terima,

         Laloe pergilah pangeran keraton (saudara soeltan agoeng)pada malam itoe,mengatakan bahwa jang seperti maksoed pangeran Ratoe itoe,telah disetoedjoei baginda soeltan Agoeng,sekadar baginda minta bertanggoeh 7 hari, karena bagi hendak menghiasi negeri dan lain-lain,soepaja perkerdjaan kawin itoe dilangsoengkan setjara radja-radja,

         Malam itoe Ratoe Rangdan pangeran dibawa poelang keistana ajahanda baginda Soeltan Agoeng di

   Beringin Djanggoet, dan Pangeran Ratoe tinggalah di Kota Tjerantjangan tiada poelang ke Keraton, sebeloem akoe nikah dengan Ratoe Rangdan Pangeran.” Tetapi maksoed djang sebenarnja, ialah ia ta’maoe melepaskan deradjat Soeltan dari tangannja. Setelah tibalah sa’at jang telah didjandjikan itoe, dilangsoengkanlah pekerdjaan kawin dengan oepatjara dan a’dat kebesaran. Soeltan Anom, kakanda Pangeran Ratoe merasa hatilah atas perkawinan Pangeran Ratoe dengan Ratoe Rangdan Pangeran itoe.

Soedah pesti deradjat Soeltan diperoleh Pangeran Ratoe adiknja itoe Iri hati itoe memoepoek perselisihan

Demikianlah semendjak waktoe itoelah moelanja perselisihan antara Soeltan Anom dengan Pangeran Ratoe poelanglah ke Keraton baginda di Tengkoeroek bersama isterinja.

Tiada lama kemoedian, Sultan Agung Sri Treono poen mangkat, Sebeloem dimakamkan, dinobatkan orang lebih daholoe Pangeran Ratoe, djadi Soeltan, bergelar (Soeltan Mahmoed Badaroe’ddin).Setelah itoe Soeltan Agoeng dimakamkanlah di Palembang lama I ilir

. Pada soeatoe hari, dipenghadapan baginda bertitah dihadapan sentono-sentono jang banjak :,,Chabarnja Ka’Mas (Soeltan Anom) telah mengadjak orang-orang oeloean Palembang, hendak mereboeat keradjaan ini, Siapakah diantara toean-toean sanggoep menjelesaikan perkara ini ? Radin Serdang menjahoet, sembahnja : ,,Patik, Toeankoe”. Maka dititahkanlah Radin Serdang moedik dengan kelengkapannja. Waktoe itoe Soeltan Anom sedang di Poendjoena. Datang kesana Soeltan Anom sedang mengambil woedoek. Baroe dilihat Soeltan Anom akan Radin Serdang datang itoe maka sabda baginda : ,, Datang engkau Serdang? Maaksoedmoe itoe telah koeketahoeilah. Tetapi sampaikan hadjatkoe daholoe. Akoe lagi hendak sembahjang doea raka’at”

Sahoet Radin Serdang : ,,Engge”= Baiklah, Tetapi baroe satoe raka’at baginda sembahjang, laloe ditembak oleh Radin Serdang, dipertoeroetkannja dengan keris, Mangkatlah Soeltan Anom dengan tiada bertemoe dengan anaknja lagi. Anaknja Radin Kelip, sedang pergi bertapa, dan Pangeran Adipati Tiomot sedang pergi mengatoerkan anak negeri jang hendak pergi menjerang Palembang itoe. Lelajon, majat Soeltan Anom serta dengan isteri dan anak-anaknja jang ketjil, dibawa dengan pentjalang ke Palembang. Tiba di Palembang tergopoh-gopoh Radin Serdang masoek member tahoe kepada Soeltan Mahmoed Badaroeddin, bahwa Soeltan Anom ,,telah disoedahinja”

Mendengar itoe amatlah moerka Soeltan akan Radin Serdang, sabdanja : ,,Boekan demikian maksoedkoe Serdang Akoe menjoeroeh engkau menjelsaikan perkara itoe, artinja damai. Sekali-kali tak lajak perboetanmoe ini, Serdang. “ Lelajon Soeltan Anom itoe, ditanamkanlah pada haari itu djoega, di Kebon Gede dengan oepatjaranja radja-radja. Esok harinja Radin Serda dihoekoem boenoeh. Kata setengah, ditikam dengan keris penikan Soeltan Anom itoe. Kata serengah digantoengkan goeci berisi batoe pada lehernja, laloe ditenggelamkan dekat poelao Kembaro, laloe djadi boeaja. Jang lain poela mengatakan dihoekoem tembak. Lain kata : Karena Radin Serdang orang gagah baik dihoekoem dengan moeslihat jalah pada waktoe itoe di komering, ada keroesoehan, Sebab Radin Serdang soenggoeh kepala di Komering maka dititahkanlah dia oleh Soeltan pergi menjelasaikan perkara itoe. Dilengkapkanlah seboeah pentjalang djeroeboeng, dengan anak dajoeng dan tentara seberapa perloe. Laloe segala dempoel di tanggalkan tenggelam lalu matilah Radin serdang dalam djeroeboeng itoe . Tiba di Komering dikoentjikan oranglah akan dia dalam djerboeng itoe. Setelah pentjalang rerak, majatnja hanjoet tersangkoet ditepian dimoeka benteng. Atas titah Soeltan. Lelajon itoe di ambil dan dimakamkan dipinggir goebah Soenan Tjandi Walang dengan kehormatan. Beberapa lama selangnja, Soeltan poen mendjenangkan (menggelari) anak-anaknja.

  1. Radin Belani didjenangkan Pangeran Ratoe : 2. Radja Katjir didjenangkan Pangeran Adikesoemo : 3. Radin Roestam didjenangkan Pangeran Arioe Roestam : 4. Radin Bandjar didjenangkan Pangeran Depati Bandar Koetma : 5. Radin M. Zainoe’ddin Darah Poetih : 6. Radin Temenggoeng didjenangkan Pangeran Soeria Dilaga : 7. Radin Nata Didjenangkan Pangeran Marto Kesoema Oesman : 9. Radin Joesoef didjenangkan Pangeran Koesoema Joesoef : 10. Radin Tji’ didjenangkan Pangeran Kesoema Tji : 11. Radin Komering didjenangkan Panglima Besar Komering : 12. Radin M. Said didjenangkan Kepala Periai Soengai Rendang.

Soeatoe ketika [pagi-pagi Djoem’at] Soeltan pergi melihat-lihati orang mengerdjakan goebah di Lemah Abang itoe, bersama-sama poetra-poetranja dan Pangeran Nata Diradja, serta berziarah sekali atas makam orang jang toea-toea dan Boenda Baginda. Hanja, anakenda baginda Pangeran Ratoe (Radin Belani) jang tinggal mengepalai pendjagaan benteng.

Waktoe itoelah, terdjadi keriboetan dalam benteng. Jang memboeat keriboeatan itoe ialah beberapa orang dari pihak Pangeran Dipo Kesumo, Pagi-pagi itoe, pergilah mereka itoe bersama-sama beberapa orang Boegis dan Bali, ada djoemblah 40 orang, masing-masing mendjijing taboeng boeloeh berisi dadih. Tiba dipintoe gerbang sekaliannjapoen menjerahkan keris kepada pengholoe kawal, laloe minta izin masoek berdjoel dadih dalam keraton. Tiba di dalam, dengan segera segala pintoe ditotoepkan mereka dari dalam, hingga penghoeloe kawal ta’dapat masoek. Masing-masing poen menghoenoes keris dari dalam taboeng dadih itoe, laloe mengamoeklah dengan ta menaroeh kasihan sedikitpoen.

Pangeran Ratoe, soeami isteri serta anak-anaknja dan beberapa periai dalam habislah mati, Djoeroe kawal jang tertinggal diloear itoe, seorang pergi berlari-lari  ke Lemah Abang member tahoe Soeltan, dan seorang pergi memberi tahoe kepada Keranggoe Diem, seorang holoebalang Soeltan Jang Gagah, jang pada ketika itoe diam diloear kota.

Keranggo Diem baroe habis bertanak nasi. Mendengar itoe, tiadalah roepnja ia terperadjat, tetapi dalam hatinja bernjala-njala kemarahannja.

Setelah selesai makan dan mandi (soenggoe roepanja daholoe, makan daholoe baroe mandi ito di’adatkan. Sekarang poen masih ada itoe di Palembang. Penoelis dan menjisir ramboet, baroelah ia pergi kekeratoen dengan beberapa hambanja. Tiba dimoeka benteng djoeroe kawal jang tinggal telah siap memboeat doea boeah tangga boeloeh. Dengan tangga itoelah mereka itoe masoek kedalam. Mengamoeklah Keranggo Diem itoe, seperti hoeloebalang Bodrowongsoh poela. Daripada 40 pengamoek jang memboenoeh orang dalam itoe  seorang djoea jang ditangkapnja hidoep, jang lain dipersoedahinja semoea. Sebentar lagi, Soeltan kembali dengan bergesa-gesa. Boekan patoet mareahnja kepada Keranggo Diem, membonoeh orang 39 itoe, jang kehendak hati baginda, hendaklah ditangkap hidoep djoe baroe sampoerna nama hoeloebalang.

Keranggo Diem, toendoek maloe dan kesel. Demi terilhat oleh Baginda lelajon anakenda baginda Pangeran Ratoe terbantai bersama-sama istri dan anaknja Ratoe terhantar bersama-sama istri dan anaknja (Pangeran Ratoe), boekan kepalang kesal hati baginda.

Sebab dialah jang diangan-angankan baginda bakal menggantikan dia, sekalian jang mati di amuk itoe, dikoeboerkanlah di Lemah Abang. Sampai sekarang terpelihara dengan baik. Dan majat si pengamoek jang 39 orang itoe, entah dimana di tanama ta’terang.

Pangeran Ratoe jang mangkat terbonoeh itoe, digantikan oleh Adindanja Pangeran Adi Kesoemo Semendjak itoe Pangeran Adi Kesoemoelah djadi Pangeran Ratoe dan kemudian menggantikan ayahandanya Soeltan Mahmud Badaruddin menjadi Sultan Palembang.

Sumber makalah di atas  (Sedjarah Malaju Palimbang).

Suksesi berikutnya di Kesultanan Palembang Darussalam sebelum Vakum :

          Tanggal 1 Juli 1821 dalam keadaan yang sangat terjepit, Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin mengutus puteranya Pangeran Prabu Kesumo Abdul Hamid dan menantunya Pangeran Keramo Jaya Abdul Azim menemui Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom dan Susuhunan Husin Dhiauddin menyerahkan Pemerintahan Kesultanan. Setelah itu Sultan dan keluarga bertirah di rumah Pangeran Adipati Tuo.

3 Jum Awwal  1228. Sunan Mudo di akui oleh inggeris dengan gelar Sultan Ahmad Najmuddin.

7 Rajab       1228. Sultan Ahmad Najamuddin diturunkan oleh Inggeris dan Ss. Mahmud Badaruddin di akui.

Romadhon 1228. Sultan Ahmad Najamuddin di akui oleh Inggeris dan Ss. Mahmud Badaruddin diturunkan.

22 Sya’ban 1234. Ss. Mahmud Badaruddin di akui oleh Belanda dan S. Ahmad Najamuddin diturunkan.

28 Muharram       1234. Sunan Mudo dan Prabu Anom di asingkan oleh Belanda ke Cianjur.

Rajab          1236. Sunan Mudo di jeneng Ss. Husin Di auddin dan Prabu Anom di Jeneng Sultan Ahmad Najamuddin oleh Belanda di Betawi, kemudian di bawak ke Palembang.

25 Romadhon      1236. Ss. Husin Diauddin, Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom Sekeluarga datang di Palembang.

Romadhon  1236. Kraton Kuto Besak di duduki pasukan jenderal de kock, dan pada tanggal 4 Sjawal 1236 Ss. Mahmud Bdaruddin dan S. Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu di Asingkan oleh Belanda ke Ternate

29 Jum. Awal       1240. Prabu Anom memberontak dengan sepengetahuan Ss. Husin Diaunddin

Jum. Akhir 1240.  Ss. Husin Diaunuddin di asingkan oleh Belanda ke Betawi, dan wafat pada tanggal 4 Rajab 1240 usia 56 tahun

1241.  Prabu Anom ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Belanda kemudian ke    Menado, dan wafat pada tanggal 20 jum. Awwal 1260 dalam usia 59 Tahun.

14  Safat   1269. Ss. Mahmud Badaruddin wafat di Ternate dalam usia 87 tahun.

2  Rajab   1277. S. Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu wafat di Ternate dalam usia 87 Tahun.

7  Zulkaedah  1278. Pangeran Kramo jayo wafat di Purbolinggo (Banyumas) dalam usia 70 tahun, di      asingkan ke Purbolinggo dalam tahun 1267.

DAFTAR

( PENGUASA-PENGUASA, RAJA-RAJA DAN SULTAN-SULTAN PALEMBANG 1 )

Nomor  :                                                                        : Tahun
Urut    :                                                                          : HIJRIAH  :  MELADIAH

  1. Ario Abdillah (Ario Dila, sebelumnya                      : 859 – 891 : 1455 – 1486

bernama Aria Damar )

  • Pangeran Sedo Ing Lautan                                        : 943-959   :  1547-1552
  • Kiai Gedeh Ing Suro Tuo                                             : 959-981    :  1552-1573
  • Kiai Gedeh Ing Suro Mudo (Kiai MasAnom Adipati Ing Suro)    : 981-998    : 1573 -1590
  • Kiai Mas Adipati                                                           : 998-1003  :  1590 -1595
  •  Pangeran Madi  ing Sako                                            : 1003 -103 :1590 -1629
  • Pangeran Madi Alit                                                      : 1038 –1039 : 1929 -1630
  • Pangeran Sedo Ing Puro                                            : 1039 – 1049 :1630-1639
  • Pangeran Sedo Ing Kenaya                                      : 1049 -1061 1639-1650
  • Pangeran Sedo Ing Pesarean                                   : 1061-1062 : 1651-1652
  • Pangeran Sedo Ing Rajek                                           : 1062-1069  :1652 -1659
  • Kiai Mas Endi, Pangeran Ario Kesuma Abdurrohim, Sultan Susuhunan AbdurRahman- Klifatul Mukminin Sayidul Iman             : 1069 – 1118 : 1659 – 1706
  1. Sultan Muhammad Masyur Jayo Ing Lago             : 1118 -1126 : 1706 -1714
  2. Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno                    : 1126 – 1136 : 1714 : 1724
  3. Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo           : 1136 – 1171 : 1724-1758
  4. Sultan Susuhunan

Ahmad Najamuddin Adi Kesumo                             : 1171 – 1190 : 1758 -1776

  1. Sultan Mahmud Bahauddin                                       : 1190 – 1218 : 1776 -1803
  2. Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin                 : 1218 – 1236 : 1803 -1821
  3. Sultan Susuhunan Husin Dhiauddin                        : 1228 : 1233 : 1813 – 1817
  4. Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu            : 1234 : 1236 :  1819 – 1821
  5. Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom                : 1236 -1238  : 1821 -1823
  6. Pangeran Kramo Jayo                                                  : 1238 – 1240 : 1823 – 1825

Daftar Nama-nama Kesultanan Palembang Darussalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *